Samarinda, Infosatu.co – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tetap dipertahankan meski kenaikan harga minyak dunia mulai memberikan tekanan terhadap keuangan negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Menurut Bahlil, pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan berkoordinasi dengan Presiden Prabowo Subianto serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menentukan langkah menghadapi kondisi tersebut.
“Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi, tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat 11 September 2026.
Keputusan mempertahankan harga BBM subsidi tersebut terjadi ketika harga minyak mentah dunia telah menembus US$100 per barel. Kondisi tersebut membuat selisih antara harga minyak global dan asumsi harga minyak dalam APBN semakin lebar.
Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel. Sementara itu, ICP Agustus 2026 telah mencapai US$89,43 per barel, meningkat dari US$81,68 per barel pada Juli.
Tekanan terhadap harga minyak juga tercermin dari pergerakan pasar internasional. Harga minyak Brent tercatat berada di atas US$107 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menembus US$102 per barel.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran subsidi energi. Pemerintah pun membuka kemungkinan adanya tambahan anggaran subsidi untuk menahan dampak kenaikan harga minyak terhadap masyarakat.
Bahlil mengakui meningkatnya harga minyak dunia menjadi beban tambahan bagi keuangan negara. Namun, pemerintah menilai menjaga kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi pertimbangan utama dalam mempertahankan harga BBM subsidi.
“Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian daripada langkah yang kita lakukan,” katanya.
Kementerian ESDM sebelumnya memproyeksikan harga ICP pada September masih berada di level tinggi, sekitar US$83-US$87 per barel. Pergerakan tersebut dipengaruhi antara lain risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
Pemerintah menyatakan perkembangan harga minyak dunia akan terus dipantau untuk menentukan kebijakan energi berikutnya, termasuk memastikan stabilitas harga BBM subsidi di dalam negeri.
