Samarinda, Infosatu.co – Belajar berjam-jam menjelang ujian masih menjadi kebiasaan banyak siswa. Materi yang sebenarnya bisa dipelajari secara bertahap justru dikumpulkan dalam satu malam dengan harapan semuanya bisa tersimpan di ingatan.
Padahal, ada pendekatan belajar yang justru membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi. Bukan belajar selama berjam-jam dalam satu waktu, melainkan mempelajari materi sedikit demi sedikit dan mengulanginya kembali setelah jeda.
Dalam penelitian pendidikan, pendekatan ini dikenal sebagai distributed practice atau spaced practice.
Prinsipnya sederhana. Daripada menghabiskan tiga jam untuk satu materi dalam sehari, siswa dapat membaginya menjadi beberapa sesi yang dilakukan pada waktu berbeda.
Tidak sekadar soal lama belajar
Belajar sedikit tetapi rutin bukan berarti semakin sedikit waktu belajar akan selalu menghasilkan nilai yang lebih baik.
Yang menjadi perhatian penelitian adalah bagaimana waktu belajar tersebut didistribusikan.
Penelitian tentang distributed practice pada pembelajaran di Indonesia menunjukkan bahwa penyebaran latihan dalam beberapa kesempatan dapat digunakan sebagai alternatif dibanding latihan yang dilakukan secara terus-menerus dalam satu sesi.
Salah satunya penelitian Ilham Kamaruddin, Muhammad Nur, dan Sufitriyono dari Universitas Negeri Makassar yang diterbitkan dalam Journal of Educational Science and Technology pada 2020. Penelitian tersebut menguji model distributed practice berbantuan media audiovisual untuk pembelajaran teknik dasar bulu tangkis. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar setelah penerapan model tersebut.
Namun, penelitian tersebut berada dalam konteks pembelajaran keterampilan olahraga. Karena itu, hasilnya tidak bisa langsung diartikan bahwa semua siswa akan otomatis mendapatkan hasil akademik lebih tinggi hanya dengan belajar sebentar setiap hari.
Mengapa pengulangan dengan jeda bisa membantu?
Ketika materi dipelajari kembali setelah jeda, siswa tidak sekadar membaca ulang dalam keadaan masih mengingat materi dari beberapa menit sebelumnya.
Ada proses mengingat kembali informasi yang sudah mulai terlupakan.
Konsep inilah yang menjadi dasar spaced repetition. Materi tidak diberikan atau diulang terus-menerus dalam satu waktu, tetapi kembali dipelajari pada interval tertentu.
Penelitian yang melibatkan pembelajar di Indonesia juga menunjukkan potensi pendekatan tersebut. Studi mengenai spaced repetition dalam pembelajaran bahasa Mandarin yang diterbitkan pada 2025 melaporkan bahwa penggunaan teknik tersebut dapat meningkatkan hasil belajar, khususnya dalam mengingat karakter dan urutan guratan.
Penelitian lain dari Indonesia mengenai spaced repetition dalam penguasaan kosakata bahasa Inggris juga melaporkan peningkatan nilai siswa setelah strategi tersebut diterapkan.
Artinya, mengulang materi bukan sekadar mengulang membaca buku. Yang lebih penting adalah memberi kesempatan kepada otak untuk kembali mengambil informasi yang sudah dipelajari sebelumnya.
Belajar semalam bisa terasa efektif, tetapi, ada alasan mengapa belajar sekaligus dalam waktu lama terasa memuaskan.
Setelah membaca materi berkali-kali, seseorang bisa merasa sudah menguasainya. Masalahnya, rasa familiar terhadap materi belum tentu berarti informasi tersebut akan mudah diingat beberapa hari kemudian.
Penelitian internasional yang menggabungkan puluhan studi di lingkungan kelas menemukan bahwa distributed practice memiliki efek positif dibanding massed practice, yaitu belajar yang dikumpulkan dalam satu waktu. Analisis tersebut mencakup lebih dari 3.000 peserta dan menemukan efek sedang yang mendukung distributed practice.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa manfaat belajar dengan jeda dapat terlihat lebih jelas ketika kemampuan mengingat diuji setelah waktu yang lebih panjang, bukan hanya segera setelah latihan.
Karena itu, belajar semalam sebelum ujian mungkin membantu seseorang mengingat materi untuk waktu singkat, tetapi belum tentu menjadi strategi terbaik untuk mempertahankan pengetahuan dalam jangka panjang.
Lalu, bagaimana cara menerapkannya?
Tidak perlu langsung membuat jadwal belajar berjam-jam.
Siswa bisa mencoba membagi satu materi menjadi beberapa sesi pendek. Misalnya, setelah mempelajari materi hari ini, lakukan pengulangan pada hari berikutnya. Beberapa hari kemudian, coba ingat kembali materinya tanpa melihat buku.
Cara terakhir penting karena siswa tidak hanya membaca ulang, tetapi mencoba memanggil kembali informasi dari ingatan.
Contohnya, setelah belajar tentang sistem pernapasan, buku ditutup dan siswa mencoba menjawab sendiri, apa fungsi paru-paru, bagaimana udara masuk ke tubuh, dan apa yang terjadi dalam proses pertukaran oksigen.
Jika ada bagian yang lupa, barulah buku dibuka kembali untuk memeriksa jawabannya.
Metode seperti ini membuat sesi belajar tidak hanya berupa membaca berulang-ulang.
Jadi, apakah belajar sedikit tapi rutin lebih efektif?
Bisa lebih efektif untuk mempertahankan informasi, terutama jika belajar dilakukan secara teratur dengan jeda dan disertai latihan mengingat kembali. Namun, bukan berarti semakin sedikit belajar maka semakin baik.
Yang lebih penting adalah konsistensi, pengaturan jeda, kualitas latihan, dan kesesuaian metode dengan materi yang dipelajari.
Untuk materi yang membutuhkan hafalan, misalnya kosakata atau istilah, pengulangan berkala dapat menjadi strategi yang berguna.
Sementara untuk matematika atau keterampilan tertentu, siswa tetap membutuhkan latihan soal dan penerapan konsep, bukan sekadar membaca materi.
Jadi, daripada menunggu malam sebelum ujian untuk membuka seluruh buku, belajar sedikit demi sedikit sejak awal bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
