Samarinda, Infosatu.co – Program Magang Luar Negeri bagi Guru SMK Tahun 2026 tak hanya diarahkan untuk meningkatkan kompetensi 50 guru yang diberangkatkan ke Jerman. Pengetahuan tentang teknologi, praktik industri, hingga budaya kerja yang mereka peroleh selama tiga bulan ditargetkan bisa ditularkan kepada guru lain dan diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pengalaman yang diperoleh peserta selama magang harus memberikan dampak lebih luas setelah mereka kembali ke Indonesia.
Sebanyak 50 peserta tersebut diharapkan menjadi penghubung untuk menyebarkan pengetahuan dan pengalaman yang didapat selama berada di lingkungan pendidikan maupun industri Jerman kepada guru SMK lainnya.
“Setelah memperoleh pengalaman dan keahlian selama tiga bulan, ada trickle down effect atau ada proses di mana Bapak dan Ibu sekalian juga dapat mentransformasikan pengalamannya pada guru-guru SMK yang lainnya, sehingga dapat terjadi peningkatan mutu yang berjalan seiring dengan pengalaman Bapak dan Ibu sekalian magang di Jerman,” ujar Abdul Mu’ti saat melepas peserta Program Magang Luar Negeri Guru SMK Tahun 2026 di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Program tersebut diselenggarakan Kemendikdasmen bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dengan menggandeng Technische Universität Dresden (TU Dresden) dan Festo sebagai mitra pendidikan dan industri.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menilai pengalaman internasional penting dalam pengembangan profesional guru SMK. Sebab, pembelajaran langsung di lingkungan pendidikan dan industri dapat membantu sekolah memahami kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
“Keberangkatan ini penting untuk meningkatkan kompetensi, kapasitas profesional, dan sekaligus pengalaman belajar dan praktik bagaimana di dunia pendidikan dan juga di dunia industri,” tuturnya.
Ia menyebut pengalaman yang dibawa peserta juga dapat membuka peluang bagi SMK untuk memperluas jejaring dengan dunia industri. Termasuk dengan perusahaan asal Jerman yang beroperasi di Indonesia, yang ke depan berpotensi dikembangkan menjadi kerja sama untuk mendukung pembelajaran dan kesiapan lulusan.
Dari sisi industri, Festo memberikan pembelajaran terkait otomasi industri. Perwakilan Festo Safri Susanto mengatakan peserta akan mendapat gambaran mengenai perkembangan teknologi manufaktur, khususnya otomasi dan mekatronika.
Kolaborasi Festo dengan pendidikan vokasi Indonesia sendiri telah berlangsung sejak 2015. Kerja sama tersebut sempat terhenti akibat pandemi dan kembali dilanjutkan pada 2026 melalui program magang guru SMK.
Salah satu peserta, Guru Teknik Otomasi Industri SMK Negeri 1 Cilegon, Banten, Lingganu Rahman, mengatakan dirinya ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam perkembangan teknologi kontrol otomasi.
“Saya sangat bersemangat untuk mengikuti program ini, karena saya rasa ini bisa meningkatkan pendidikan vokasi di negeri kita agar mampu bersaing di tingkat global,” ungkapnya.
Lingganu juga berkomitmen membagikan pengetahuan dan praktik baik yang diperoleh selama di Jerman kepada rekan-rekan guru, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
“Saya akan mendiseminasikan praktik-praktik baik yang saya pelajari di sana kepada rekan-rekan sejawat, di lingkungan internal maupun eksternal,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Guru SMK Negeri 1 Sanga-Sanga, Kalimantan Timur, Astri Damayanti. Ia berharap pengalaman yang diperoleh dari program tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi dapat diterjemahkan menjadi perubahan yang dirasakan siswa dan sekolah.
“Perubahan yang kami bawa itu bisa berdampak langsung kepada siswa kami, sekolah kami, maupun daerah kami untuk membawa vokasi Indonesia menjadi lebih baik,” sebut Astri.
Astri juga menaruh perhatian pada pola hubungan antara sekolah dan industri yang dipelajari selama program. Menurutnya, penguatan hubungan tersebut penting agar kompetensi lulusan SMK semakin sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Yang kami harapkan jelas bagaimana penerapannya nanti di sekolah, bagaimana cara kita bekerja sama dengan perusahaan sehingga hasil lulusan-lulusan SMK itu tidak hanya memiliki keterampilan berstandar internasional, tapi kami harapkan bisa bersaing di tingkat internasional,” harapnya.
