Samarinda, Infosatu.co – Kemarau panjang mulai berdampak terhadap lahan pertanian di Kota Samarinda. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani) Samarinda mencatat sekitar 654,5 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan.
Kepala Dinas Ketapangtani Samarinda HM Darham menyampaikan kondisi tersebut terjadi di sejumlah kawasan pertanian, di antaranya Lempake dan Tanah Merah, Samarinda Utara. Kekeringan membuat ketersediaan air bagi tanaman padi, jagung hingga sayuran semakin terbatas.
Meski demikian, Darham menyebut sebagian kelompok tani telah menyelesaikan panen, sehingga perhatian berikutnya diarahkan pada petani yang hendak kembali menanam.
“Bersyukur karena sebagian kelompok petani yang ada itu sudah panen,” ujar Darham, Rabu, 2 September 2026.
Menurutnya, persoalan yang kini dikhawatirkan adalah petani yang telah selesai panen tetapi kesulitan memulai kembali masa tanam akibat keterbatasan air. Kondisi cuaca membuat sejumlah kelompok tani berpotensi menunda penanaman.
“Kita khawatirkan ketika mereka sudah mau panen sumber air tidak ada sama sekali. Kemudian target yang dimintakan oleh Kementerian Pertanian itu dalam setahun tiga kali panen. Karena kondisi cuaca ini, mau tidak mau ada beberapa kelompok tani yang menunda kegiatan tanam,” jelasnya.
Darham menyebut kawasan yang cukup terdampak berada di Palaran, Sambutan, serta wilayah Samarinda Utara. Sejumlah lahan yang jauh dari sungai mengalami kesulitan mendapatkan sumber air.
Khusus wilayah Palaran, persoalan ketersediaan air juga dipengaruhi masuknya air asin. Kondisi tersebut membuat sumber air yang dapat digunakan untuk pertanian semakin terbatas.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Dinas Ketapangtani Samarinda memaksimalkan penggunaan pompa air yang telah mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian maupun Pemerintah Kota Samarinda.
Namun, kemampuan pompa menyesuaikan dengan jenis tanaman dan kebutuhan air. Pompa berukuran kecil dinilai masih cukup membantu tanaman hortikultura, sedangkan untuk persawahan dibutuhkan pompa dengan kapasitas lebih besar karena kebutuhan airnya jauh lebih tinggi.
“Kita maksimalkan pompa-pompa yang ada, sudah dibantu oleh kementerian, kemudian dibantu oleh pemerintah kota juga,” kata Darham.
Dinas Ketapangtani juga akan memprioritaskan penggunaan pompa pada lahan pertanian yang berada dekat dengan sumber air. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan tanaman sekaligus mengurangi potensi penundaan masa tanam.
Sementara itu, sektor hortikultura dinilai relatif lebih mudah ditangani karena kebutuhan airnya tidak sebesar tanaman padi. Pompa kecil yang dapat dipindahkan atau dimobilisasi masih memungkinkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
“Kalau hortikultura tidak ada masalah, karena hortikultura itu tanaman yang tidak begitu banyak menggunakan air. Cukup menggunakan pompa-pompa kecil yang bisa dimobilisasi,” pungkasnya.
