Samarinda, Infosatu.co — Kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober mulai mengancam produktivitas pertanian di Kota Samarinda.
Sekitar 50 hektare lahan pertanian di kawasan Jalan Serayu, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda berpotensi mengalami gagal panen apabila tidak segera mendapat pasokan air melalui hujan maupun irigasi buatan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu dampak yang tengah dipetakan Pemerintah Kota Samarinda menyusul potensi berlanjutnya musim kering.
“Di awal kita mitigasi, identifikasi persoalan atau potensi risiko jika kemarau ini berlanjut sampai September bahkan mungkin Oktober,” katanya.
Menurutnya, ancaman kekeringan tidak hanya menyasar lahan pertanian. Komoditas hortikultura seperti cabai dan berbagai jenis sayuran juga berpotensi terdampak apabila ketersediaan air terus menurun.
Kondisi serupa dapat terjadi pada sektor budidaya perikanan air tawar yang membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan.
BPBD bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait kini menghimpun data wilayah yang terdampak kekeringan.
Data tersebut nantinya menjadi bahan laporan kepada Wali Kota Samarinda Andi Harun untuk menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.
Suwarso menyebutkan bantuan dapat diarahkan pada penyediaan sarana pendukung, termasuk mengoptimalkan peralatan milik pemerintah maupun perusahaan.
“Mungkin (bantuan) dengan menggerakkan beberapa peralatan yang dimiliki OPD maupun perusahaan. Pokoknya, konsepnya kolaborasi, kita gerakkan semuanya,” tuturnya.
Di tengah ancaman terhadap sektor pertanian, kebutuhan air masyarakat juga menjadi perhatian. BPBD berkoordinasi dengan Perumda Tirta Kencana untuk memetakan permukiman yang berpotensi mengalami keterbatasan air bersih.
Pemerintah menyiapkan skema distribusi air menggunakan armada mobil tangki hingga penyediaan tandon publik di sejumlah fasilitas umum, termasuk tempat ibadah dan lingkungan RT.
“Kita bisa mempersiapkan suplai air bersih ke daerah-daerah yang air bersihnya terbatas,” jelasnya.
Tambahnya, pemerintah juga mewaspadai potensi intrusi air laut yang dapat memengaruhi sumber air baku.
Meski indikator kualitas udara saat ini masih tergolong baik, kondisi kemarau tetap membutuhkan kewaspadaan karena dapat memperbesar tekanan terhadap ketersediaan air.
Selain langkah pemerintah, masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air dan memanfaatkan kondisi distribusi yang masih normal untuk menyiapkan cadangan.
“Penghematan air bersih ini paling penting. Masyarakat diimbau untuk mulai menampung air dalam kondisi masih normal saat ini,” tandasnya.
