Samarinda, Infosatu.co – Kadar garam pada air baku di intake PDAM Palaran masih dalam kondisi terkendali di tengah kemarau panjang yang meningkatkan potensi intrusi air laut.
Pemkot Samarinda memastikan operasional pengolahan air tetap berjalan, sembari memantau kondisi intake secara rutin.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan pemantauan dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore.
Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui perubahan kadar garam pada air baku sekaligus mengantisipasi apabila intrusi air laut mulai masuk ke wilayah Palaran.
“Kalau intrusi air laut nanti masuk pertama kali itu kan di Palaran,” ujar Marnabas di Balai Kota Samarinda, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dalam pemeriksaan terbaru, angka pengukuran berada di 16 ppm, turun dari 17 ppm pada pemeriksaan sebelumnya. Pengukuran dilakukan menggunakan perangkat milik PDAM yang terhubung dengan sistem pada instalasi pengolahan air (IPA).
Perangkat tersebut memiliki batas toleransi hingga 250 ppm. Angka pengukuran menjadi salah satu indikator bagi pemerintah untuk menentukan langkah apabila kondisi air baku mengalami perubahan akibat masuknya air laut.
“Di Palaran itu intake kita yang di sana kita cek tiap hari, pagi dan sore. Pagi tadi itu 16, kemarin 17, turun,” terang Marnabas.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk mencegah perubahan kualitas air baku berkembang menjadi persoalan pada proses pengolahan.
Jika kadar garam meningkat melewati kemampuan sistem, kondisi tersebut berpotensi mengganggu peralatan dan operasional pengolahan air.
Marnabas mengatakan pemerintah tidak ingin mengambil risiko terhadap mesin pengolahan apabila kondisi air sudah berada di luar batas yang dapat ditoleransi.
“Kalau lewat daripada itu kami tidak mau berisiko, karena rusak mesin yang ada itu, lebih besar mudaratnya,” tuturnya.
Palaran menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena posisinya dinilai berpotensi menjadi titik awal terdampak apabila intrusi air laut terjadi.
Pemerintah pun memilih melakukan pemantauan rutin sebagai langkah antisipasi selama kemarau berlangsung.
Pemantauan akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan kadar garam pada air baku dan memastikan kondisi intake tetap dapat mendukung proses pengolahan air.
Marnabas menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menghadapi dampak kemarau panjang dengan mengantisipasi perubahan kondisi sebelum berkembang menjadi gangguan pelayanan.
“Kami fokuskan diantisipasi, jangan sampai nanti sudah kejadian baru kita bertindak,” pungkas Marnabas.
