Samarinda, Infosatu.co – Ancaman kekeringan akibat potensi menguatnya fenomena El Nino pada Agustus 2026 mulai diantisipasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Samarinda.
Sektor pertanian khususnya tanaman padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air, menjadi perhatian utama agar produksi pangan tidak terganggu.
Analis Pasar Produksi Pertanian DKPP Samarinda Didi Subroto mengatakan pihaknya telah mengingatkan kelompok tani untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan musim kemarau yang lebih panjang. Edukasi dilakukan melalui sosialisasi dan komunikasi langsung dengan para petani.
“Yang kami antisipasi adalah tanaman pangan, khususnya padi. Kalau kemarau berlangsung lama, pertumbuhan tanaman akan terganggu karena kebutuhan air tidak terpenuhi,” kata Didi, Senin, 20 Juli 2026.
Langkah antisipasi tersebut menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Temenggung Pranoto Samarinda yang memperkirakan fenomena El Nino akan menguat pada Agustus mendatang.
Menurut Didi, tanaman padi menjadi komoditas yang paling rentan terdampak kekeringan karena membutuhkan pasokan air yang stabil selama masa pertumbuhan.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah tanaman hortikultura, seperti cabai dan tomat, yang justru cenderung lebih optimal saat musim kemarau.
Ia mencontohkan pengalaman pada musim kemarau sebelumnya, ketika sejumlah lahan sawah di kawasan Pulau Atas mengalami kekeringan. Tanaman padi yang telah memasuki fase pembentukan malai atau fase primordia gagal berkembang hingga mati akibat lahan mengering dan tanah retak.
Saat itu, pemerintah berupaya menyelamatkan tanaman dengan memasok air dari Sungai Mahakam menggunakan armada tangki. Namun, suhu udara yang tinggi membuat air cepat menguap sehingga pasokan belum mampu memenuhi kebutuhan lahan secara maksimal.
“Beberapa tangki air kami kirimkan, tetapi karena cuaca sangat panas, air cepat habis. Ini memang menjadi tantangan saat kemarau panjang,” terangnya.
DKPP juga telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, di antaranya Kecamatan Sambutan, Samarinda Utara, Palaran, dan sebagian Loa Janan Ilir.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah telah menyalurkan pompa air berkapasitas besar kepada kelompok tani agar suplai air tetap terjaga saat debit sungai menurun.
Selain bantuan sarana, pemerintah juga menyediakan kuota solar bersubsidi untuk membantu biaya operasional pompa air yang digunakan petani selama musim kemarau.
Meski demikian, Didi mengingatkan bahwa tantangan pertanian di Samarinda tidak hanya datang dari kekeringan. Ancaman banjir juga masih membayangi sejumlah sentra produksi padi. Bahkan, di beberapa wilayah Samarinda Utara, petani pernah mengalami gagal panen berulang akibat sawah terus terendam.
“Karena itu kami berharap kondisi cuaca pada musim tanam tahun ini tetap mendukung, sehingga ketersediaan air dapat terjaga dan produksi padi di Kota Samarinda tidak mengalami penurunan meski El Nino diperkirakan menguat dalam waktu dekat,” pungkasnya.
