infosatu.co
KESEHATAN

Jangan Jauhi ODHIV, HIV Bisa Dikendalikan dengan Pengobatan

Teks: Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Orang dengan HIV (ODHIV) tetap dapat menjalani hidup sehat dan produktif selama rutin menjalani pengobatan.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk menghentikan stigma terhadap ODHIV dan lebih memahami bahwa HIV bukanlah vonis akhir apabila ditangani sejak dini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan HIV dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan dua kondisi yang berbeda.

HIV masih dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV), sedangkan AIDS merupakan fase lanjut ketika sistem kekebalan tubuh telah menurun secara signifikan.

“Kalau sudah HIV, yang penting berobat secara teratur. Jangan sampai berkembang menjadi AIDS. Kalau sudah jatuh ke AIDS, kondisinya jauh lebih berat dan bisa mengancam nyawa,” ujarnya Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Ismed, semakin cepat seseorang mengetahui status HIV-nya, semakin besar peluang untuk mempertahankan kualitas hidup melalui terapi yang dijalani secara rutin.

Karena itu, ia mendorong masyarakat, khususnya kelompok yang berisiko, agar tidak ragu mengikuti skrining HIV.

Ia memastikan layanan pengobatan HIV juga telah tersedia secara gratis di sejumlah puskesmas dan rumah sakit di Samarinda sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap biaya terapi.

“Pengobatan HIV ini gratis. Di beberapa puskesmas dan rumah sakit sudah tersedia layanan pengobatan,” katanya.

Selain akses pengobatan, Ismed menilai dukungan dari lingkungan sekitar turut menentukan keberhasilan terapi yang dijalani ODHIV.

Karena itu, masyarakat diminta tidak lagi memberikan stigma maupun perlakuan diskriminatif kepada para penyintas HIV.

“Jangan jauhi orangnya, tapi tinggalkan penyakitnya. Itu yang harus dipahami masyarakat,” tegasnya.

Ia menegaskan pengendalian HIV tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan. Menurutnya, keterlibatan dunia pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas, hingga berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar edukasi dan upaya pencegahan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Penanganan HIV tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Perlu keterlibatan dunia pendidikan, organisasi masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak agar edukasi serta pencegahan bisa berjalan lebih efektif,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinkes Samarinda, kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) masih menjadi kelompok dengan jumlah temuan kasus HIV terbanyak di Kota Tepian.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk terus memperluas jangkauan skrining agar infeksi dapat ditemukan lebih dini dan segera ditangani.

“Kami terus memperluas skrining dengan menggandeng berbagai organisasi agar kasus HIV bisa ditemukan lebih dini sehingga pasien segera mendapatkan pengobatan,” pungkasnya.

Related posts

Layanan Kesehatan Tetap Prioritas, Meski Daerah Hadapi Kendala Anggaran

Emmy Haryanti

Angka Stunting di Samarinda Turun ke Kisaran 17 Persen

Rizki

Skrining 19.577 Warga, Dinkes Samarinda Temukan 184 Kasus HIV Baru

Rizki