Bontang, Infosatu.co – Pengawasan hewan kurban di Kota Bontang diperketat menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Pengetatan pengawasan ini dilakukan guna mengantisipasi risiko penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), seiring meningkatnya arus distribusi ternak dari luar daerah.
Mayoritas sapi kurban yang masuk ke Bontang diketahui masih didatangkan dari Sulawesi. Kondisi tersebut membuat pengawasan kesehatan ternak menjadi perhatian penting untuk memastikan hewan yang diperjualbelikan tetap aman dan layak dikurbankan.
Fungsional Ahli Muda Medik Veteriner DKP3 Bontang Riyono mengatakan pemeriksaan dilakukan di puluhan titik pemantauan yang tersebar di lokasi peternak maupun pedagang hewan kurban.
Menurutnya, pemeriksaan meliputi pengecekan fisik hewan hingga pengambilan sampel secara acak guna memastikan ternak bebas dari penyakit menular.
“Kami lakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi hewan, termasuk sampling untuk memastikan ternak yang masuk tetap sehat,” ujarnya, Kamis, 21 Mei 2026.
Data kebutuhan hewan kurban di Kota Bontang tahun ini mencapai 1.134 ekor sapi, 1.007 ekor kambing, dan 47 ekor domba. Namun sebagian besar kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.
Selain pemeriksaan langsung, pengawasan distribusi ternak juga mulai didukung sistem digital melalui aplikasi lalu lintas hewan untuk mempermudah pemantauan asal-usul dan pergerakan ternak.
Di tingkat peternak, kondisi kesehatan hewan kurban tahun ini disebut lebih stabil dibanding saat wabah PMK sempat merebak beberapa waktu lalu.
Salah satu peternak di Jalan WR Soepratman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, Rahman Suryono, mengaku distribusi sapi tahun ini berjalan lebih lancar karena minim ditemukan ternak sakit selama proses pengiriman.
“Kalau dibanding waktu PMK kemarin memang jauh lebih aman sekarang. Hewan yang datang kondisinya bagus,” katanya.
Meski kondisi kesehatan ternak membaik, peternak masih menghadapi kenaikan biaya distribusi akibat tingginya ongkos transportasi dan bahan bakar minyak (BBM).
Rahman menyebut harga sapi kurban tahun ini berada pada kisaran Rp22 juta hingga Rp50 juta per ekor. Sementara sapi berukuran besar dijual hingga Rp68 juta sampai di atas Rp70 juta tergantung ukuran dan kualitas hewan.
“Biaya pengiriman sekarang cukup tinggi, terutama karena BBM dan ongkos angkut, jadi harga otomatis ikut menyesuaikan,” ujarnya.
Kendati harga mengalami kenaikan, permintaan hewan kurban di tingkat masyarakat disebut masih relatif stabil. Sistem pembelian secara patungan juga masih menjadi pilihan warga untuk membeli sapi kurban.
Salah satu warga, Abdul Hakim, mengaku tetap membeli hewan kurban di peternakan langganannya karena kualitas ternak dinilai konsisten setiap tahun.
“Kami tidak khawatir soal kualitas hewan kurban. Dari tahun ke tahun hasilnya alhamdulillah baik,” tuturnya.
