Bontang, infosatu.co – Pemerintah Kota Bontang Kalimantan Timur (Kaltim) menyiapkan langkah alternatif untuk mengatasi persoalan banjir rob yang kerap merendam akses utama menuju kawasan Bontang Kuala.
Salah satu solusi yang disiapkan adalah pembangunan trotoar tinggi di sepanjang Jalan Piere Tendean sebagai jalur aman bagi warga saat air laut pasang.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, mengatakan persoalan akses menuju kawasan tersebut kembali menjadi sorotan.
Yaitu dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Bontang Tahun 2027.
Dalam forum tersebut, perwakilan delegasi dari Kecamatan Bontang Utara menyampaikan keluhan masyarakat mengenai kondisi jalan yang sering terendam air laut saat banjir rob.
Bahkan genangan air bisa bertahan cukup lama hingga menghambat aktivitas warga.
“Dalam Musrenbang itu disampaikan jalan di kawasan Bontang Kuala sering terendam saat rob. Bahkan bisa sampai sekitar 10 hari,” katanya.
“Sehingga aktivitas warga, termasuk anak-anak yang pergi sekolah, ikut terganggu,” ujar Neni saat ditemui di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota, Jumat, 10 April 2026.
Menurutnya, pemerintah daerah sebenarnya telah mengusulkan pembangunan jalan layang (flyover) di ruas Jalan Piere Tendean kepada pemerintah pusat sebagai solusi jangka panjang.
Usulan tersebut telah disampaikan melalui Kementerian Pekerjaan Umum serta Komisi V DPR RI.
Hal ini karena status jalan tersebut merupakan jalan nasional, sehingga kewenangan pembangunan berada di pemerintah pusat.
“Kita sudah usulkan ke pusat untuk pembangunan jalan layang sebagai solusi jangka panjang banjir rob di Bontang Kuala. Karena itu jalan nasional, jadi kita tetap dorong agar masuk prioritas nasional,” jelasnya.
Namun demikian, Pemkot Bontang juga menyiapkan langkah alternatif apabila pembangunan flyover belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembangunan trotoar tinggi yang dapat dimanfaatkan warga sebagai jalur darurat saat jalan utama tergenang.
Rencananya trotoar tersebut akan dibangun sepanjang sekitar 900 meter, dengan lebar 1,5 meter dan ketinggian sekitar 60 sentimeter dari badan jalan.
“Kalau dari pusat belum terealisasi, kita siapkan alternatifnya lewat APBD. Trotoar itu nanti bisa dipakai warga saat rob supaya aktivitas tetap berjalan,” terang Neni.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Pemkot Bontang menyiapkan anggaran sekitar Rp40 miliar pada tahun anggaran 2027.
Pembangunan trotoar akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari satu sisi jalan terlebih dahulu.
Selain menyiapkan anggaran, pemerintah daerah juga mulai melakukan sejumlah persiapan teknis.
Termasuk penataan serta sterilisasi lahan di sekitar jalur yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan trotoar.
Langkah ini dilakukan agar pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lancar ketika proyek dimulai.
Neni menegaskan bahwa persoalan akses menuju Bontang Kuala tidak bisa dianggap sepele.
Selain menjadi jalur utama bagi mobilitas warga, kawasan tersebut juga dikenal sebagai kampung wisata bahari yang menjadi salah satu ikon pariwisata Kota Bontang.
“Yang paling penting adalah memastikan warga tetap punya akses yang aman. Terutama anak-anak yang setiap hari harus berangkat sekolah melewati jalan itu,” tegasnya.
Selama ini, banjir rob kerap merendam ruas Jalan Piere Tendean hingga setinggi betis orang dewasa.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu, terutama pada pagi hari ketika warga berangkat bekerja dan anak-anak menuju sekolah. (Adv)
