infosatu.co
DISKOMINFO BONTANG

Ekonomi Bontang Masih Bertumpu pada Industri, UMKM Belum Optimal

Teks: Kepala Bapperida Kota Bontang, Syahruddin (tengah) saat memberi pemaparan dalam Musrenbang RKPD Bontang Tahun 2027. (Infosatu.co/Adi)

Bontang, infosatu.co – Struktur ekonomi Kota Bontang Kalimantan Timur (Kaltim) hingga saat ini masih sangat bergantung pada sektor industri pengolahan, khususnya berbasis minyak dan gas (migas) serta liquefied natural gas (LNG).

Ketergantungan ini dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bontang, Syahruddin, mengakui kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bontang masih mendominasi secara signifikan.

“Struktur ekonomi kita masih bertumpu pada sektor industri pengolahan. Kontribusinya sangat besar dibandingkan sektor lainnya,” ujarnya di Pendopo Rujab Wali Kota Bontang, Selasa, 7 April 2026.

Dominasi sektor ini bahkan disebut mencapai lebih dari 70 persen terhadap total PDRB. Kondisi tersebut membuat ekonomi daerah sangat sensitif terhadap dinamika global, khususnya fluktuasi harga energi dan permintaan ekspor.

Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kinerja ekspor LNG turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Bontang. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kontraksi ekonomi daerah pada 2024.

“Ketika sektor utama kita terganggu, dampaknya langsung terasa ke pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas Syahruddin.

Di sisi lain, sektor-sektor ekonomi kerakyatan seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ekonomi kreatif dinilai belum berkembang secara optimal.

Padahal, sektor ini memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya tahan ekonomi lokal.

“UMKM seharusnya bisa menjadi penopang ekonomi yang lebih inklusif. Namun saat ini kontribusinya masih belum maksimal,” katanya.

Kondisi ini juga berdampak pada ketimpangan distribusi manfaat ekonomi. Pertumbuhan yang terjadi belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok usaha kecil.

Selain UMKM, potensi sektor lain seperti perikanan dan kelautan juga dinilai belum tergarap secara optimal. Minimnya hilirisasi produk menjadi salah satu kendala utama dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi.

“Potensi perikanan kita besar, tapi belum diikuti dengan pengolahan yang maksimal. Ini yang harus kita dorong ke depan,” tambahnya.

Tantangan lainnya adalah daya saing investasi daerah yang masih perlu diperkuat. Pemerintah menilai, ketergantungan terhadap industri besar harus diimbangi dengan upaya menarik investasi di sektor lain yang lebih beragam.

“Kita perlu memperbaiki iklim investasi, agar sektor-sektor non-industri juga bisa berkembang,” ujarnya.

Di tengah kondisi fiskal daerah yang sedang tertekan, upaya transformasi ekonomi menjadi semakin penting.

Pemerintah Kota Bontang berkomitmen untuk mendorong diversifikasi ekonomi melalui penguatan UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, serta optimalisasi potensi sektor unggulan lainnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang, tidak hanya bergantung pada industri besar, tetapi juga ditopang oleh sektor-sektor yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas.

“Kita ingin pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkualitas dan inklusif. Artinya, manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat,” tutup Syahruddin. (Adv)

Related posts

Anggaran Terbatas, Usulan Musrenbang Kota Bontang Dipangkas Jadi Satu Tiap Kecamatan

Rizki

Angka Kemiskinan Menurun, Tapi Pengangguran Masih Jadi PR Besar di Bontang

Rizki

Infrastruktur Belum Tuntas, Penanganan Banjir di Bontang Kaltim Masih Jadi Tantangan

Rizki

You cannot copy content of this page