
Kutim, infosatu.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Kalimantan Timur (Kaltim) mengumumkan capaian awal Proyek Perubahan Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK).
Sekedar diketahui, proyek SITISEK ini adalah sebuah program strategis yang dirancang untuk menekan jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah tersebut.
Program ini disebut sejalan dengan visi Kutai Timur Hebat 2045 serta agenda Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4 tentang pendidikan berkualitas.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyampaikan bahwa SITISEK dirancang sebagai pendekatan holistik dan inklusif untuk menjawab krisis ATS yang selama ini menjadi pekerjaan rumah besar sektor pendidikan daerah.
“Proyek Perubahan SITISEK merupakan inisiatif strategis yang bertujuan mempercepat penanganan ATS melalui langkah-langkah terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan,” ujar Mulyono.
Menurut data Pusdatin Kemendikbudristek per Maret 2025, jumlah ATS di Kutai Timur tercatat sebanyak 13.411 anak.
Melalui tahap awal implementasi SITISEK, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 10.539 anak. Artinya, terdapat penurunan sebanyak 2.872 anak yang kembali terhubung dengan layanan pendidikan.
Mulyono menjelaskan, angka tersebut diperkirakan masih akan terus menurun. Saat ini tercatat 4.982 data ATS yang tidak ditemukan di lapangan.
Data tersebut belum dapat dihapus hingga proses verifikasi melalui Disdukcapil rampung dan kemudian diusulkan untuk dihapus oleh Pusdatin.
Upaya penanganan ATS disebut akan melaju lebih optimal melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) yang digarap bersama Universitas Negeri Yogyakarta.
Dokumen RAD itu akan menjadi panduan kerja lintas sektor dalam menangani ATS, mulai dari pemerintah kecamatan, perangkat desa, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan.
“Rencana Aksi Daerah ini akan ditindaklanjuti oleh semua stakeholder secara terstruktur, sistematis, dan massif. Dokumen tersebut hari ini kami serahkan agar masing-masing pihak menjalankan langkah sesuai tugas dan fungsinya,” kata Mulyono.
Dengan integrasi data, kolaborasi multipihak, serta strategi intervensi langsung ke lapangan, Disdikbud Kutim berharap program SITISEK dapat mempercepat pemenuhan hak pendidikan dasar bagi seluruh anak di Kutai Timur tanpa terkecuali. (Adv)
