infosatu.co
PEMERINTAH

Padi Baru Tanam Terancam Kekeringan, Distapangtani Pompa Air dari Anak Sungai Karangmumus

Teks: Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Distapangtani Samarinda Noke Pattipawaej. (Emmi/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Tanaman padi di kawasan Betapus dan Lempake Jaya Kota Samarinda tengah memasuki fase kritis di tengah kemarau panjang. Untuk mencegah tanaman mati dan berujung pada gagal panen, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distapangtani) Samarinda mempercepat upaya penyediaan pasokan air bagi lahan pertanian warga.

Salah satu langkah yang disiapkan yakni memompa air dari anak Sungai Karangmumus (SKM) untuk dialirkan ke area persawahan. Dua unit pompa berkapasitas besar disiapkan di dua titik, yakni Betapus dan Lempake Jaya.

Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Distapangtani Samarinda Noke Pattipawaej menjelaskan kondisi tanaman padi yang rata-rata baru berusia sekitar 30 hari setelah tanam (HST) membuat ketersediaan air menjadi kebutuhan mendesak.

“Fase 30 HST ini sangat krusial dan membutuhkan pasokan air yang cukup agar tanaman tidak mati. Kalau sudah melewati fase ini mendekati masa panen, kebutuhan airnya tidak lagi terlalu besar,” ungkapnya Senin, 7 September 2026.

Di Betapus, terdapat sekitar 40 hektare sawah yang membutuhkan pasokan air. Selain itu, terdapat sekitar 30 hektare lahan hortikultura dan sayuran yang juga terdampak kondisi kering.

Menurut Noke, pemompaan air tersebut nantinya memberikan manfaat kepada lima kelompok tani dengan jumlah anggota sekitar 100 orang. Pengerjaan teknis serta penempatan pompa dijadwalkan segera dilakukan di lapangan.

“Kita mencoba alternatif pengairan dengan pemompaan di dua titik, yaitu Betapus dan Lempake Jaya, memanfaatkan sumber air dari anak SKM,” jelasnya.

Tidak hanya Betapus dan Lempake Jaya, penanganan kekeringan juga disiapkan untuk kawasan Serayu. Berbeda dengan dua lokasi sebelumnya, wilayah tersebut tidak memiliki sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan secara langsung.

Distapangtani menyiapkan pengiriman air menggunakan tangki untuk mengisi embung yang menjadi sumber pengairan sawah. Namun, air yang akan digunakan terlebih dahulu diperiksa untuk memastikan kandungannya aman bagi tanaman.

“Di Serayu luas lahan persawahan sekitar 40 hektare. Karena tidak ada sumber air, kita suplai pakai tangki ke embung. Tapi kualitas airnya kita tes dulu, jangan sampai kandungan logamnya berat yang justru merusak padi,” tegasnya.

Noke menambahkan, penanganan kekeringan tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas instansi. Distapangtani bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan air petani dapat terpenuhi.

“Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi dampak kemarau panjang, khususnya ancaman puso yang dapat merugikan petani di sejumlah sentra pertanian Samarinda,” pungkasnya.

Related posts

Pengunjung Enggan Naik ke Lantai Atas Pasar Pagi, Pemkot Siapkan Eskalator

Emmy Haryanti

Deteksi Dini Jadi Kunci Tekan Risiko Karhutla di Kaltim

Emmy Haryanti

Ismed Bicara Warisan Kinerja: Pemimpin Boleh Berganti, Kerja Organisasi Harus Terus Berkembang

Emmy Haryanti