Bontang, Infosatu.co – Sistem Informasi Terintegrasi Data Stunting (Sirindu) disiapkan menjadi pusat data stunting Kota Bontang guna menyatukan berbagai sumber data yang selama ini tersebar di sejumlah perangkat daerah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang Syahruddin mengatakan keberhasilan penanganan stunting sangat ditentukan oleh kualitas data yang digunakan pemerintah dalam menetapkan sasaran program.
“Banyak daerah yang berhasil menurunkan angka stunting karena mereka memulai dari data yang baik. Kalau datanya kuat, sasarannya jelas, kader bisa bergerak lebih tepat, dan intervensi yang dilakukan menjadi efektif,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat, 26 Juni 2026.
Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat sejumlah perbedaan data yang berasal dari berbagai instansi. Karena itu, diperlukan satu sistem yang mampu mengintegrasikan seluruh informasi agar proses validasi dan pemutakhiran data dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Sirindu dirancang untuk menghimpun data dari berbagai sumber, mulai dari posyandu, puskesmas, Disdukcapil, hingga perangkat daerah yang terlibat dalam percepatan penurunan stunting.
Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk memetakan kondisi anak berisiko stunting hingga menentukan wilayah prioritas intervensi.
“Data yang kita miliki harus satu. Jangan sampai ada perbedaan data antarinstansi karena itu akan memengaruhi penentuan sasaran program. Melalui Sirindu, kita ingin memastikan data yang digunakan benar-benar valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” kata Syahruddin.
Selain memuat data status gizi anak, sistem tersebut juga dirancang untuk mengintegrasikan data penimbangan, imunisasi, serta informasi kesehatan lainnya yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Integrasi data itu dinilai penting agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih utuh dalam upaya penanganan stunting.
Dalam pembahasannya, perangkat daerah terkait juga menyoroti pentingnya sinkronisasi data by name by address dengan data pelaporan rutin yang selama ini digunakan dalam program penurunan stunting. Sinkronisasi diperlukan agar proses perencanaan, monitoring dan evaluasi program dapat berjalan lebih akurat.
“Data stunting itu dinamis, sehingga harus terus diperbarui dan diverifikasi. Karena itu, kolaborasi seluruh perangkat daerah menjadi kunci agar data yang masuk ke dalam sistem tetap berkualitas,” tutupnya.
