infosatu.co
Lifestyle

Kopi Tiap Hari, Langganan Tak Terpakai: Pengeluaran Kecil yang Menggerus Uang Mahasiswa

Teks: Kebiasaan membeli kopi di kafe setiap hari menjadi salah satu pengeluaran kecil yang perlu diperhitungkan mahasiswa agar tidak menggerus keuangan (Infosatu.co/R’sya)

Samarinda, Infosatu.co – Kebiasaan membeli kopi di kafe dan membayar langganan layanan hiburan digital bisa menjadi pengeluaran yang luput diperhitungkan mahasiswa. Jika terus berulang tanpa pengelolaan yang baik, pengeluaran tersebut berpotensi mengganggu kondisi keuangan.

Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Kaltim, Yulianta mengingatkan mahasiswa agar lebih cermat membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum membelanjakan uang.

Ia mencontohkan kebiasaan membeli kopi atau pergi ke kafe yang dilakukan setiap hari. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak harus dihilangkan sepenuhnya, tetapi frekuensinya perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial.

“Kalau misalnya ketemu untuk nugas sekali dua kali boleh, tapi kalau tiap hari enggak bagus. Mending beli kopi di rumah, bikin kopi di rumah saja,” ujarnya di Samarinda belum lama ini.

Selain kopi, Yulianta menyoroti pengeluaran untuk berlangganan layanan digital seperti Netflix dan Spotify. Biaya berlangganan yang terus berjalan perlu dievaluasi apabila layanan tersebut jarang digunakan.

Mahasiswa dapat menyesuaikan waktu berlangganan dengan kebutuhan. Untuk layanan hiburan yang tidak digunakan setiap hari, pengeluaran dapat ditekan dengan memilih periode berlangganan yang lebih sesuai.

Bagi Yulianta, persoalan mendasarnya bukan sekadar seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang menyesuaikan gaya hidup dengan penghasilannya.

“Gaya hidup itu seharusnya tercermin dari penghasilan. Jadi kalau penghasilannya sederhana, harusnya gaya hidupnya juga sederhana,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa kebutuhan dan keinginan perlu dibedakan. Kebutuhan memiliki fungsi yang jelas, sedangkan keinginan dapat terus berkembang dan tidak selalu harus dipenuhi.

Karena itu, mahasiswa perlu mempertimbangkan kemampuan finansial sebelum membeli barang, termasuk pakaian dan alas kaki. Memaksakan diri membeli barang mahal ketika kondisi keuangan belum memungkinkan justru dapat menambah beban pengeluaran.

Di sisi lain, Yulianta mendorong mahasiswa mulai mencari penghasilan tambahan dengan memanfaatkan peluang di sektor digital. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan menjadi kreator konten, membuat produk digital, atau membuka pelatihan sesuai keahlian yang dimiliki.

Related posts

Gugup saat Bicara di Depan Banyak Orang? Ini Cara Mengatasinya Menurut Buku Bicara Itu Ada Seninya

Rizki

Kamera HP Makin Canggih, Anak Muda Masih Pilih Photobox

R'sya Rahmadina

5 Makanan Sarapan yang Terlihat Biasa, tapi Kandungan Gizinya Perlu Diperhatikan

Rizki