Samarinda, Infosatu.co – Inflasi tahunan Kota Samarinda pada September 2026 mencapai 3,98 persen. Angka tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,49 pada September 2025 menjadi 112,81 pada September 2026.
Kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran. Inflasi tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,15 persen, disusul transportasi 6,92 persen serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,39 persen.
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan tersebut, di antaranya bensin, emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, sekolah dasar, dan minyak goreng.
Saat dimintai keterangan, Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto menjelaskan perkembangan harga di Samarinda pada September 2026 menunjukkan adanya kenaikan secara tahunan maupun bulanan.
“Kalau secara tahunan, inflasi kita September ini 3,98 persen. Sementara secara bulanan naik 0,09 persen,” kata Supriyanto, Rabu, 7 Oktober 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 1,47 persen. Di dalamnya, daging ayam ras memberikan andil 0,35 persen, cabai rawit 0,26 persen, sigaret kretek mesin 0,16 persen, serta minyak goreng 0,10 persen.
Sementara dari kelompok transportasi, bensin menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,47 persen. Angkutan udara memberikan andil 0,23 persen, disusul pelumas atau oli mesin 0,06 persen dan solar 0,04 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil cukup besar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,69 persen.
Emas perhiasan menjadi komoditas dominan dengan andil 0,45 persen, diikuti popok bayi sekali pakai sebesar 0,07 persen dan tarif gunting rambut pria 0,03 persen.
Secara bulanan, inflasi September 2026 tercatat 0,09 persen. Komoditas yang paling banyak memberikan andil inflasi antara lain cabai rawit, tomat, angkutan antarkota, kacang panjang, sigaret kretek mesin, solar, mi kering instan, ikan nila, dan kue basah.
Namun, sejumlah komoditas menahan laju inflasi bulanan. Angkutan udara memberikan andil deflasi sebesar 0,10 persen, disusul daging ayam ras 0,06 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,05 persen, serta emas perhiasan 0,05 persen.
Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi Kota Samarinda hingga September 2026 mencapai 2,99 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat 1,72 persen.
“Jadi kalau dilihat dari year-to-date, sampai September ini inflasinya 2,99 persen. Untuk year-on-year, sebesar 3,98 persen,” tutup Supriyanto.
