Samarinda, Infosatu.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mulai mematangkan rencana penerapan parkir berlangganan dengan menyasar pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkot sebagai langkah awal. Rekapitulasi data dari seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) kini telah dihimpun dan dijadwalkan segera disampaikan kepada Wali Kota Samarinda.
Kepala Dishub Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengatakan pihaknya telah menerima rekapitulasi data pegawai dari seluruh dinas sebagai bagian dari persiapan program tersebut.
“Rekap data sudah kita dapatkan, khususnya untuk pegawai di lingkungan Pemerintah Kota. Semua dinas sudah mengumpulkan data,” Ungkap usai ditemui di kantor Dishub kota Samarinda, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Manalu, pelibatan PNS sebagai tahap awal bukan tanpa alasan. Pemkot ingin memberikan contoh langsung kepada masyarakat mengenai tata kelola parkir yang tengah disiapkan, terutama parkir berlangganan di badan jalan.
Ia menilai, pegawai Pemkot juga merupakan bagian dari masyarakat yang menggunakan fasilitas parkir dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, pengalaman mereka dalam menggunakan layanan tersebut diharapkan dapat menjadi gambaran nyata bagi masyarakat luas.
“Kenapa kita mulai dari PNS? Supaya Pemerintah Kota juga memberikan contoh kepada masyarakat. Pegawai Pemkot itu bagian dari masyarakat yang pasti menggunakan parkir di badan jalan,” Jelas Manalu.
Ia berharap pegawai Pemkot tidak hanya menjadi peserta program, tetapi juga dapat berperan dalam menyosialisasikan manfaat parkir berlangganan berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Dengan menggunakan kartu parkir berlangganan, pegawai diharapkan dapat menjelaskan secara langsung manfaat dan kemudahan yang dirasakan kepada masyarakat.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi self-marketing, yakni memperkenalkan suatu layanan melalui pengalaman nyata penggunanya.
“Kalau kita punya kartu parkir berlangganan, kita bisa menyampaikan kepada masyarakat, ini yang kita dapatkan dan ini yang kita rasakan. Kalau kita belum mencoba, bagaimana kita mau menyosialisasikannya kepada masyarakat lainnya?” Ucap Manalu.
Ia mengibaratkan program tersebut seperti pemasaran sebuah produk. Pengguna perlu merasakan sendiri manfaatnya agar dapat menyampaikan pengalaman secara lebih konkret kepada orang lain.
“Tidak mungkin kita memasarkan suatu produk tanpa merasakan sendiri manfaatnya,” Tutup Manalu. (ADV)
