Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh dampak musim kemarau dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah di Kaltim.
Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan paparan kabut asap mengandung partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan, terutama jika terhirup dalam jangka waktu tertentu. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap peningkatan penyakit saluran pernapasan.
“Saran kami, masyarakat jangan terlalu menganggap enteng cuaca asap saat ini. Ini nyata, ada ancaman bahaya terkait partikel-partikel halus yang terhirup,” ungkap Andi Ishak, Kamis, 15 Oktober 2026.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul data yang dipaparkan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, yang mencatat akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kaltim mencapai sekitar 13.000 kasus selama periode laporan khusus karhutla, yakni 27 Juli hingga 15 September 2026.
Ishak meminta masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah saat kondisi udara tidak sehat untuk menggunakan masker sebagai langkah perlindungan.
“Kalau memang harus beraktivitas di luar rumah dalam kondisi asap tidak sehat atau berbahaya, pakailah masker,” imbaunya.
Menurutnya, terdapat tren peningkatan penyakit pernapasan seiring memburuknya kualitas udara akibat kepulan asap karhutla. Selain ISPA, pneumonia menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut terutama berisiko bagi kelompok rentan, seperti anak-anak dan lanjut usia.
“Secara data memang ada peningkatan. Dampak asap ini memengaruhi peningkatan kasus ISPA dan pneumonia,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Dinkes Kaltim juga mengingatkan masyarakat terhadap ancaman penyakit lain yang dapat meningkat selama musim kemarau, yakni diare dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Ishak menjelaskan keterbatasan akses air bersih selama musim kemarau dapat berdampak terhadap sanitasi dan kebutuhan konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko munculnya penyakit diare.
Sementara itu, krisis air juga dapat mendorong masyarakat menyimpan air dalam berbagai wadah. Penampungan air yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue penyebab DBD.
Karena itu, masyarakat diminta tetap memperhatikan kebersihan lingkungan dan memastikan tempat-tempat penampungan air tidak menjadi sarang nyamuk.
Meski terdapat peningkatan kasus penyakit yang berkaitan dengan musim kemarau dan paparan asap, Andi memastikan fasilitas pelayanan kesehatan dasar di seluruh kabupaten/kota di Kaltim berada dalam kondisi siap siaga.
Dinkes Kaltim telah mengantisipasi kebutuhan sarana dan prasarana medis serta memastikan ketersediaan obat-obatan di tingkat puskesmas untuk menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
“Insyaallah sampai saat ini masih bisa kita tangani dengan baik, dan kita semua berharap kondisi asap ini segera membaik,” pungkasnya.
