Samarinda, Infosatu.co – Sekitar 25 ribu anak tidak bersekolah di Kalimantan Timur (Kaltim) telah terverifikasi melalui sinkronisasi data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim bersama Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Data tersebut menjadi dasar penanganan anak tidak sekolah, dengan sasaran utama anak usia 16-18 tahun. Pemerintah menyiapkan sejumlah skema untuk membuka kembali akses pendidikan bagi anak yang tidak melanjutkan sekolah.
Saat dikonfirmasi, Plt Kepala Disdikbud Kaltim Armin membeberkan pendataan dilakukan berbasis nama dan alamat melalui sistem verifikasi dan validasi untuk memastikan sasaran penanganan lebih tepat.
“Penanganan anak tidak sekolah diprioritaskan pada data terverifikasi,” ungkap Armin, Rabu, 30 September 2026.
Salah satu upaya yang disiapkan yakni Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh.
Skema ini ditujukan bagi anak usia 16-18 tahun yang membutuhkan alternatif untuk kembali memperoleh layanan pendidikan.
PJJ memberikan fleksibilitas dalam proses belajar dengan ijazah yang memiliki pengakuan setara dengan sekolah umum. Pelaksanaannya dilakukan bersama tiga sekolah mitra, yakni SMAN 11 Samarinda, SMAN 1 Tenggarong, dan SMAN 1 Sangatta Selatan.
Selain menangani anak yang sudah terlanjur tidak bersekolah, Disdikbud Kaltim juga memperkuat upaya pencegahan. Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) ditargetkan menjangkau 151 SMA, SMK, dan SLB di seluruh Kaltim.
Disdikbud Kaltim turut memantau penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) melalui 120 sampel dari total 12.041 peserta didik penerima manfaat.
“Optimalisasi program pendidikan inklusif turut mencakup koordinasi pelaksanaan Kejar Paket A dan Paket C,” ujarnya.
Tim kerja Disdikbud Kaltim juga memfinalisasi format pendataan dan matriks target rencana aksi bersama Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I hingga VI.
Persiapan teknis PJJ bagi santri pondok pesantren turut dilakukan untuk memperluas jangkauan layanan pendidikan di 10 kabupaten dan kota di Kaltim.
“Pemutakhiran data yang akurat menjadi pilar untuk mengembalikan anak tidak sekolah ke bangku pendidikan formal,” kata Armin.
