Samarinda, Infosatu.co – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda memproyeksikan volume produksi sampah di Kota Tepian mencapai 600 hingga 660 ton per hari. Kondisi ini mendorong Himpunan Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi (Himaksi) Universitas Mulawarman (Unmul) mengajak mahasiswa mengenal pengelolaan sampah sekaligus memanfaatkannya agar memiliki nilai ekonomi.
Ajakan tersebut disampaikan melalui program Jejak Bumi Berdaya 2026 bertema From Trash to Cash yang digelar Himaksi Unmul melalui Divisi Social Sustainable lewat Program Caring.com, Sabtu, 26 September 2026.
Ketua Panitia Pelaksana Jejak Bumi Berdaya 2026 Nur Rahma Aidillah mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi langsung mengarahkan peserta mempraktikkan pengelolaan sampah.
“Kegiatan yang kami bawakan ini cukup beragam. Selain memberikan ruang untuk sosialisasi mengenai pemilahan sampah kepada peserta, kami juga langsung mengarahkan peserta untuk membuat buku tabungan bank sampah, yang kemudian kegiatan juga disambung dengan pembuatan kerajinan,” terangnya.
Dalam kegiatan tersebut, Himaksi menggandeng Bank Sampah Faperta Unmul sebagai pemateri sekaligus kolaborator.
Peserta diperkenalkan dengan cara memilah sampah berdasarkan jenis material, kemudian diarahkan membuka rekening tabungan di Bank Sampah Faperta Unmul. Sampah yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan ditabung untuk kemudian ditukar sesuai mekanisme bank sampah.
Wakil Dekan III FISIP Unmul Daryono menyampaikan edukasi menjadi bagian penting untuk mengubah kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah.
“Pemilahan sampah ini sebenarnya mudah, tapi susah, maka kita perlu yang namanya edukasi. Oleh karenanya kegiatan kolaborasi antara Himaksi dan Bank Sampah Faperta Unmul ini sangat bermanfaat,” jelasnya.
Dalam pemaparan materi, Bank Sampah Faperta Unmul turut membahas pola konsumsi masyarakat yang berkontribusi terhadap peningkatan sampah, termasuk fenomena fast fashion dan penggunaan kertas tugas sekali pakai.
Mahasiswa juga diajak menerapkan konsep 3R dan 9R, memanfaatkan kembali barang yang masih layak melalui preloved atau donasi, serta mengurangi penggunaan barang sekali pakai.
Data yang disampaikan dalam kegiatan menyebut timbulan sampah tahunan Samarinda diproyeksikan mencapai sekitar 253.385 ton. Sampah rumah tangga menjadi salah satu penyumbang terbesar, dengan sampah organik seperti sisa makanan mendominasi sekitar 40 persen.
Sementara itu, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup yang dikutip dalam kegiatan menunjukkan komposisi sampah plastik di Kalimantan Timur mencapai 19,3 persen.
Selain pemilahan dan penabungan sampah, peserta juga mengikuti praktik mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna berupa gantungan kunci.
Melalui kegiatan tersebut, Himaksi dan Bank Sampah Faperta Unmul mendorong mahasiswa memulai pengelolaan sampah dari kebiasaan sehari-hari, seperti membawa tumbler, memilah sampah sesuai jenisnya, hingga menyetorkan sampah yang masih memiliki nilai guna.
