infosatu.co
KESEHATAN

Masker Saat Kabut Asap, Apakah Semua Jenis Masker Bisa Melindungi dari PM2.5?

Teks: Masker N95 direkomendasikan digunakan dalam kondisi Karhutla menurut WHO. (Foto: istimewa)

Samarinda, Infosatu.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan yang dihadapi 10 Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur (Kaltim).

Di tengah kondisi tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dianjurkan untuk mengurangi paparan asap.

Namun, memakai masker tidak otomatis berarti tubuh terlindungi dari seluruh partikel berbahaya dalam asap. Jenis masker, kemampuan menyaring partikel, hingga seberapa rapat masker menutup wajah ikut menentukan tingkat perlindungannya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim mencatat kualitas udara di sejumlah wilayah mengalami fluktuasi seiring meningkatnya sebaran asap karhutla.

Berdasarkan pemantauan ISPUnet pada 30 Agustus 2026, Sendawar, Kutai Barat, sempat mencatat ISPU 318 atau masuk kategori Berbahaya. Samarinda saat itu berada pada angka 67 atau kategori Sedang. Di Berau, pemantauan 28–29 Agustus juga menunjukkan angka 131 dengan parameter kritis PM2,5.

Kondisi tersebut membuat persoalan masker menjadi penting, sebab asap karhutla tidak hanya terdiri dari partikel yang terlihat mata. Salah satu ancaman utamanya adalah PM2.5, yaitu partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk menggunakan masker karena partikel PM2.5 dapat mengganggu kesehatan paru-paru.

Kementerian Kesehatan juga menempatkan paparan PM2.5 sebagai salah satu ancaman kesehatan utama dalam kondisi karhutla.

Tidak semua masker memberikan perlindungan yang sama

Masker kain, masker bedah atau disposable, hingga respirator seperti N95 memiliki kemampuan perlindungan yang berbeda.

Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) pada CDC, N95 dan P100 merupakan respirator yang dirancang untuk menyaring partikel sangat kecil, termasuk PM2.5 dari asap kebakaran.

Respirator tersebut juga dirancang agar menempel lebih rapat pada wajah sehingga udara yang masuk lebih banyak melewati media penyaring.

Sebaliknya, masker kain dan sejumlah masker sekali pakai tidak dirancang untuk memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel kecil dalam asap.

Salah satu persoalannya adalah masker tersebut umumnya tidak membentuk seal atau kerapatan di sekitar hidung dan mulut.

CDC bahkan membedakan secara jelas antara respirator dan masker biasa. Masker kain maupun masker sekali pakai memiliki tingkat filtrasi yang bervariasi dan umumnya tidak dirancang untuk menyaring partikel kecil seperti respirator.

Artinya, ketika tujuan penggunaan masker adalah mengurangi paparan PM2.5 dari kabut asap, masker kain bukan pilihan perlindungan utama.

Lalu, bagaimana dengan masker bedah?

Masker bedah tetap dapat memberikan perlindungan tertentu, tetapi tidak setara dengan respirator yang dirancang untuk menyaring partikel halus dan menempel rapat pada wajah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan masker yang terpasang dengan baik, terutama FFP2 atau N95, apabila seseorang memang harus keluar ruangan saat kondisi udara dipenuhi asap kebakaran.

Persoalannya bukan hanya kemampuan bahan menyaring partikel. Celah di sekitar hidung dan pipi dapat membuat udara yang mengandung partikel masuk tanpa melewati lapisan penyaring.

Karena itu, masker yang memiliki klaim filtrasi tinggi tetapi dipakai longgar tetap tidak akan memberikan perlindungan maksimal.

N95 bukan berarti bisa dipakai sembarangan

CDC menyarankan respirator dipilih berdasarkan ukuran yang sesuai dengan wajah. Masker harus menutup hidung dan mulut serta membentuk kerapatan di sekitar wajah. Posisi tali dan bagian penjepit hidung juga harus benar.

Jika terdapat celah besar di sekitar hidung atau pipi, efektivitas perlindungan dapat berkurang.

Hal lain yang perlu dipahami, respirator partikulat seperti N95 menyaring partikel, bukan semua jenis polutan berbentuk gas atau uap.

Jadi, penggunaan N95 tidak berarti seseorang menjadi sepenuhnya aman dari seluruh komponen kimia yang terdapat dalam asap kebakaran.

Karena itu, masker merupakan salah satu lapisan perlindungan, bukan alasan untuk tetap beraktivitas lama di tengah kabut asap.

Kapan sebaiknya menggunakan masker?

WHO menyarankan masyarakat mengurangi paparan langsung terhadap asap dan, jika harus keluar ruangan, menggunakan respirator seperti N95 atau FFP2 yang terpasang dengan baik.

Prinsipnya sederhana. Semakin buruk kualitas udara, semakin penting mengurangi waktu berada di luar ruangan.

Kemudian bagi kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung, upaya mengurangi paparan menjadi semakin penting.

Di Kaltim sendiri, pemerintah daerah terus memantau kualitas udara akibat karhutla. DLH Kaltim menggunakan stasiun pemantauan kualitas udara otomatis serta alat pemantau pendukung di sejumlah daerah untuk melihat perubahan kondisi udara.

Jadi, ketika kabut asap kembali muncul, pertanyaannya bukan sekadar “sudah pakai masker atau belum?”

Tapi masker apa yang digunakan, apakah terpasang rapat, dan apakah aktivitas di luar ruangan memang masih diperlukan?

Karena untuk menghadapi PM2.5, masker yang menutup wajah belum tentu sama dengan masker yang benar-benar dirancang untuk menyaring partikel halus.

Related posts

Kualitas Layanan Kesehatan Kaltim Terbaik Se-Kalimantan

Rizki

ISPA Samarinda Naik 22,8 Persen, Dinkes Minta Warga Waspadai Dampak Asap Karhutla

Emmy Haryanti

Kualitas Udara Memburuk pada Siang hingga Sore, DLH Samarinda Imbau Warga Olahraga di Rumah

Rizki