infosatu.co
KESEHATAN

Tiga Tahun Terakhir, Depresi Masuk 10 Besar Masalah Kesehatan Kaltim

Teks: Cek Kesehatan Gratis yang diselenggarakan Dinkes Kaltim pada Festival Merah Putih Kaltim 2026. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Depresi konsisten masuk dalam 10 besar masalah kesehatan di Kalimantan Timur (Kaltim) dalam tiga tahun terakhir.

Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena kembali terlihat dalam pemeriksaan kesehatan masyarakat melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin mengatakan temuan tersebut menunjukkan persoalan kesehatan mental masih menjadi bagian dari masalah kesehatan masyarakat di daerah ini.

“Ini hampir sama dengan riset kesehatan dasar tahun 2018. Depresi paling banyak, masuk dalam 10 besar penyakit-penyakit yang menjadi masalah di Provinsi Kaltim,” kata Jaya saat dikonfirmasi, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurut Jaya, tren tersebut tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat. Ia menilai kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan menghadapi konflik juga dapat memengaruhi kondisi psikologis.

“Ini sejak tiga tahun terakhir trennya seperti itu. Mungkin lebih banyak pada bagaimana mengelola emosi dan konflik pada diri kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tekanan psikologis dapat muncul ketika seseorang tidak mampu mengendalikan emosi. Persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan tenang justru dapat berkembang menjadi stres ketika terus dipikirkan.

“Ada yang emosinya tidak bisa dikelola sehingga muncul dalam pikiran kita, merasa stres, depresi,” kata dia.

Jaya juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial. Menurutnya, keterlibatan dalam perdebatan atau persoalan yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kehidupan seseorang dapat memicu tekanan emosional.

“Jangan ikut-ikutan yang bukan tanggung jawabnya. Kemudian kita ikut berkomentar, apalagi di media sosial,” katanya.

Menurut Jaya, seseorang yang awalnya tidak memiliki persoalan dapat ikut terbawa emosi setelah membaca komentar atau terlibat dalam perdebatan di media sosial. Saling membalas komentar, kata dia, dapat membuat emosi semakin meningkat.

“Yang biasanya enggak emosi tiba-tiba ada yang mengomentari, ikut komentar, jadi naik darah,” ujarnya.

Karena itu, Jaya menyarankan masyarakat lebih selektif mengonsumsi informasi dan tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk terus-menerus terlibat dalam konflik.

Ia juga mendorong masyarakat mengisi waktu dengan aktivitas yang membuat pikiran lebih tenang, seperti mendengarkan musik, mengikuti kegiatan sosial, maupun melakukan aktivitas fisik.

“Kita menghindari hal-hal yang memicu konflik, tapi bicara lebih banyak pada hal yang fun, nyaman, enjoy,” katanya.

Jaya menambahkan, masyarakat perlu membedakan persoalan pribadi dengan persoalan yang berada di luar tanggung jawabnya. Menurut dia, kebiasaan memikirkan terlalu banyak hal dapat membuat seseorang kehilangan ruang untuk mengurus dirinya sendiri.

“Negara kan ada yang ngurusin sendiri. Kita ngurusin diri sendiri, bagaimana kita sehat, kita enjoy, kita nyaman,” ujarnya.

Ia menekankan, kesehatan mental tidak terlepas dari pola hidup secara keseluruhan. Masyarakat diharapkan tidak hanya memperhatikan kesehatan ketika sudah mengalami gangguan, tetapi mulai membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak awal.

“Harus diberikan kesadaran untuk bisa mengelola kesehatannya sendiri,” pungkas Jaya.

Related posts

Kematian Ibu dan Bayi di Kaltim Capai 333 Kasus Per Juli 2026, Rujukan Lintas Daerah Masih Jadi Persoalan

Rizki

Kasus ISPA Kaltim Tembus 216 Ribu, Dinkes Siapkan Stok Masker

Emmy Haryanti

Dinkes Kaltim Soroti Kualitas Udara Dalam Rumah, 13,5 Persen Tak Memenuhi Standar

Emmy Haryanti