Samarinda, Infosatu.co – Gempa bumi yang masih mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat kegiatan belajar di ratusan sekolah dialihkan dari ruang kelas. Sebanyak 923 satuan pendidikan memilih menerapkan pembelajaran dari rumah demi menjaga keselamatan murid dan guru.
Gempa yang berlangsung sejak 15 Agustus 2026 itu berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan. Kondisi sejumlah bangunan sekolah yang mengalami kerusakan serta ancaman gempa susulan membuat pembelajaran harus disesuaikan dengan situasi darurat.
Selain 923 sekolah yang menerapkan belajar dari rumah, sebanyak 171 satuan pendidikan menjalankan pembelajaran daring. Kemudian 35 sekolah menggunakan kelas darurat dan 30 lainnya masih melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Secara keseluruhan, sekitar 116.324 murid terdampak mengikuti pembelajaran dalam kondisi darurat. Pemerintah Provinsi NTT mengarahkan kegiatan belajar berlangsung dari rumah maupun lokasi pengungsian untuk mengurangi risiko bagi warga sekolah.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan keselamatan harus menjadi prioritas, namun kondisi bencana tidak boleh memutus hak anak untuk memperoleh pendidikan.
“Dalam situasi bencana, keselamatan dan keberlanjutan pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya saat mengunjungi korban gempa di NTT.
Berdasarkan data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026, sebanyak 1.268 dari 1.378 satuan pendidikan terdampak telah melaporkan kondisi atau sekitar 92 persen.
Laporan tersebut mencakup tujuh kabupaten dengan 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan. Dari 8.664 ruang kelas yang terdata, 5.521 ruang mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang di antaranya rusak berat atau total.
Kerusakan juga terjadi pada laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru. Sebanyak 502 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Untuk menjaga pembelajaran tetap berjalan, Kemendikdasmen menerbitkan Panduan Pembelajaran di Masa Darurat. Sekolah diberi fleksibilitas dalam menentukan metode belajar dengan memprioritaskan materi esensial, literasi-numerasi dasar, serta dukungan psikososial.
Kemendikdasmen juga menyiapkan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Tenda tersebut sedang didistribusikan dan ditargetkan mulai digunakan pada pekan berikutnya.
Bantuan awal juga telah dikirim ke sejumlah wilayah terdampak. Sejak 16 Agustus 2026, tim Kemendikdasmen bergerak dari Labuan Bajo dengan membawa 4.500 bingkisan anak, paket sembako, 800 school kit, dan 400 family kit.
Bantuan telah disalurkan ke Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Ngada. Tim tambahan kemudian bergerak menuju Ende, Nagekeo, dan Sikka.
Untuk mendukung pemulihan pendidikan, Kemendikdasmen selanjutnya menyiapkan 5.000 school kit, 1.500 family kit, 6.238 mebelair, 3.956 papan tulis, dan 123.522 buku.
Pendampingan psikososial bagi murid dan guru juga dilakukan bersama Himpunan Psikologi, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta mitra perguruan tinggi.
Gempa Flores menyebabkan 72 orang meninggal dunia, termasuk tiga murid dan satu guru. Lebih dari 80 ribu orang mengungsi, termasuk sekitar 38 ribu warga sekolah.
Pendataan kerusakan dan kebutuhan pendidikan terus dilakukan untuk menentukan dukungan berikutnya. Pendampingan kepada pemerintah daerah dalam menjalankan pembelajaran masa darurat juga dilakukan hingga kebijakan tersebut berakhir pada 28 Agustus 2026.
