infosatu.co
BONTANG

Biaya Distribusi Tinggi, Harga Sapi Kurban di Bontang Makin Mahal

Teks: Lokasi penjual sapi di Jalan WR Soepratman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan. (Infosatu.co/Adi)

Bontang, infosatu.co – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, harga sapi kurban di Kota Bontang mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi ini dipengaruhi terutama oleh meningkatnya biaya distribusi, khususnya ongkos transportasi dan bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada harga akhir di tingkat penjual.

Salah satu peternak di Jalan WR Soepratman, Kelurahan Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan, Rahman Suryono menyebutkan harga sapi kurban saat ini berada pada rentang sekitar Rp22 juta hingga Rp50 juta per ekor.

Sementara untuk sapi berukuran besar, harga dapat mencapai kisaran Rp68 juta hingga di atas Rp70 juta, tergantung kualitas dan permintaan pasar.

“Biaya pengiriman sekarang cukup tinggi, terutama karena BBM dan ongkos angkut, jadi harga otomatis ikut menyesuaikan,” ujarnya menuturkan musabab kenaikan harga sapi.

Ia mengatakan sebagian besar sapi kurban yang masuk ke Bontang masih berasal dari Sulawesi. Kondisi tersebut membuat rantai distribusi menjadi cukup panjang sebelum sampai ke pedagang dan konsumen akhir di daerah.

Meski terjadi penyesuaian harga, permintaan sapi kurban di tingkat peternak disebut masih relatif stabil. Rahman mengaku mampu menjual sekitar 100 ekor sapi setiap tahun melalui jaringan pelanggan tetap yang sudah terbentuk lama.

“Kami sudah punya pelanggan langganan. Kurang lebih seratus ekor per tahun masih bisa terjual,” tambahnya.

Sementara itu, dari data Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang mencatat hingga pertengahan Mei 2026, ribuan hewan kurban telah masuk ke wilayah Kota Bontang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Iduladha.

Data DKP3 menunjukkan kebutuhan hewan kurban tahun ini mencapai 1.134 ekor sapi, 1.007 ekor kambing, dan 47 ekor domba. Pemerintah daerah juga memperketat pengawasan di titik masuk serta lokasi penjualan untuk memastikan seluruh hewan kurban dalam kondisi sehat, aman dan layak disembelih.

Di sisi lain, pola pembelian hewan kurban secara kolektif atau patungan masih menjadi pilihan sebagian masyarakat, khususnya untuk pembelian sapi. Skema ini dinilai lebih ringan dari sisi biaya sekaligus membantu warga dalam memenuhi kewajiban kurban.

Salah satu warga, Abdul Hakim, mengaku telah menjadi pelanggan tetap di salah satu peternakan di Bontang selama beberapa tahun terakhir karena menilai kualitas hewan yang diterima cukup konsisten.

“Kami tidak khawatir soal kualitas hewan kurban. Dari tahun ke tahun hasilnya tidak Alhamdulillah baik,” ujarnya.

Pada Iduladha tahun ini, Abdul bersama kelompoknya kembali membeli sapi dengan sistem patungan yang melibatkan tujuh orang untuk satu ekor sapi. Masing-masing peserta menyetor sesuai hitungan hingga terkumpul Rp23,5 juta untuk satu hewan kurban.

Pola pembelian kolektif ini menunjukkan permintaan hewan kurban di tingkat konsumen tetap terjaga, meskipun harga mengalami kenaikan akibat tekanan biaya distribusi dan logistik.

“Selama permintaan masih ada dan distribusi berjalan lancar, kami berharap harga bisa lebih stabil, meski biaya logistik saat ini masih menjadi tantangan utama,” harap Rahman menutup pernyataanya.

Related posts

Retribusi Wisata Bontang Kuala Kembali Berlaku, Tarif Kini Berdasarkan Kendaraan

Rizki

BGN Hentikan Sementara 9 SPPG di Bontang karena Masalah Pengolahan Limbah MBG

Rizki

Kepala BGN Kota Bontang, Surya Dwi Saputra: Program MBG Berubah, Kini Wajib Menu Siap Santap

Rizki