infosatu.co
INTERNASIONAL

Pakistan Sambut Perundingan AS-Iran, Dijadwalkan 11 April 2026

Teks: Seorang pria berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa di pusat kota London, Inggris, pada 21 Maret 2026, menentang serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. (Xinhua/Li Ying)

 Islamabad, infosatu.co – Pakistan meningkatkan persiapan keamanan dan logistik seiring kedatangan para delegasi dari Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diperkirakan akan tiba di Islamabad untuk melakukan pembicaraan penting, yang bertujuan meredakan ketegangan di Timur Tengah menyusul gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan baru-baru ini.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi pada Kamis, 9 April 2026. menyampaikan rencana komprehensif telah disusun untuk memastikan pengamanan maksimal bagi seluruh delegasi asing yang berkunjung.

Perundingan itu diperkirakan akan mempertemukan para pejabat senior dari kedua negara, sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk mencapai penyelesaian jangka panjang usai konflik yang semakin memanas selama beberapa pekan.

Menurut Kantor Berita Pelajar Iran (Iranian Students’ News Agency), Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf akan memimpin delegasi Teheran dalam pembicaraan dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Islamabad.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa delegasi AS akan mencakup utusan senior Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan putaran pertama perundingan diperkirakan akan diselenggarakan pada Sabtu.11 April 2026.

Menurut para analis, pembicaraan yang difasilitasi oleh Pakistan tersebut disambut dengan optimisme yang penuh kehati-hatian, dan menyebut kedua pihak telah mengalami kerugian besar di bidang militer, politik, dan ekonomi, sehingga menimbulkan tekanan untuk mencapai penyelesaian melalui jalur perundingan.

Pihak berwenang di Islamabad telah memberlakukan langkah keamanan yang ketat menjelang pembicaraan itu. Hari libur lokal telah ditetapkan di kota kembar Islamabad dan Rawalpindi untuk memfasilitasi berbagai pengaturan.

Polisi, pasukan paramiliter, dan dinas keamanan lainnya telah dikerahkan berdasarkan protokol Blue Book VVIP, dengan rute terpisah yang ditetapkan untuk pergerakan para delegasi asing.

Kepolisian Islamabad telah mengeluarkan imbauan lalu lintas yang memperingatkan para komuter mengenai pengalihan arus di jalan bebas hambatan. Layanan penyelamatan dan rumah sakit telah diperintahkan untuk bersiaga penuh.

Serena Hotel, properti bintang lima di Zona Merah (Red Zone), telah dipesan secara eksklusif untuk para delegasi, sementara beberapa titik masuk menuju ibu kota tersebut akan tetap ditutup selama masa tinggal mereka.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan, beberapa isu sensitif diperkirakan akan mendominasi jalannya perundingan.Salah satu poin utamanya adalah masa depan Selat Hormuz, koridor maritim krusial yang dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Isu penting lainnya adalah pelonggaran sanksi, dengan Iran berupaya mendorong pencabutan sanksi yang dijatuhkan ke negara tersebut, yang sangat membatasi perekonomian dan transaksi keuangan internasional.

Perbedaan pendapat juga masih berlanjut terkait pengayaan uranium. Iran bersikeras untuk melanjutkan programnya demi keperluan energi nuklir sipil, sementara Washington telah menegaskan kembali bahwa pihaknya mengupayakan pembatasan yang ketat untuk aktivitas tersebut.

Untuk menghadirkan kedua pihak ke meja perundingan, Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif dan Wakil PM sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar telah menggelar konsultasi dengan para pemimpin regional serta menjalin kontak diplomatik dengan Teheran dan Washington.

Para analis menuturkan netralitas Pakistan, yang didukung oleh hubungan yang telah terjalin lama dengan semua pemangku kepentingan, memberikan keunggulan unik bagi negara tersebut untuk mendorong dialog.

Tughral Yamin, brigadir purnawirawan yang juga analis keamanan regional, menggambarkan keberhasilan Pakistan dalam menyelenggarakan perundingan itu sebagai pencapaian yang luar biasa.

Ia menyatakan bahwa mempertemukan dua pihak yang sangat saling tidak percaya tersebut untuk duduk bersama sebelumnya dianggap mustahil.

“Hal itu menunjukkan ambisi dan kesediaan untuk mengambil risiko demi mewujudkan perdamaian,” ujarnya.

Dia menuturkan tantangan sebenarnya terletak pada upaya mencapai hasil yang dapat diterima oleh semua pihak, yang membutuhkan sikap pragmatis, fleksibilitas, dan kompromi bijaksana.

Para pejabat dan analis berharap pembicaraan itu dapat menandai langkah yang sangat penting menuju penurunan ketegangan di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia tersebut.

Related posts

Jepang Berencana Lepas Cadangan Minyak Tambahan Mei 2026

Dewi

Suhu Laut Uni Eropa Dekati Rekor Tertinggi Seiring Potensi El Nino

Dewi

Disney Berencana akan PHK Hingga 1.000 Pekerja

Dewi