infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

Andi Harun Ajak Jadikan Puasa Sebagai Perjalanan Sadar Menuju Takwa

Teks: Wali Kota Samarinda, Andi Harun sedang tausiah (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) Andi Harun, menegaskan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban menahan lapar dan haus, tetapi perjalanan panjang menuju takwa.

Hal itu ia sampaikan dalam tausiah Gema Ramadan Pemerintah Kota Samarinda di Mushola Ar-Raudah, Balaikota Samarinda.

Mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, ia menjelaskan bahwa puasa diwajibkan kepada orang-orang beriman agar menjadi pribadi yang bertakwa.

Ia menekankan bahwa iman bukan hanya pengakuan di lisan, tetapi harus benar-benar masuk ke dalam hati.

Ia juga mengingatkan kisah dalam Surah Al-Hujurat ayat 14 tentang orang Arab Badui yang mengaku beriman, padahal iman belum sepenuhnya tertanam di hati mereka.

Menurutnya, penggunaan kata “kutiba” dalam ayat puasa menunjukkan bahwa puasa adalah perintah yang kuat dan tegas.

Puasa juga bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad SAW, tetapi sudah menjadi tradisi umat-umat terdahulu.

Andi Harun kemudian menjelaskan bahwa tujuan puasa adalah membentuk takwa. Takwa, katanya, sering digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai pakaian (libas), perisai atau pelindung diri (wiqayah), dan juga cahaya hati (nurul qulub).

Bahkan takwa menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya, “Inna akramakum ‘indallahi atqakum.”

“Takwa itu kesadaran kita memilih untuk mengikuti proses menahan diri,” ujarnya, Senin, 23 Februari 2026.

Ia menjelaskan, menahan diri yang paling tinggi adalah imsak al-qalbi, yakni menahan dan menjaga hati. Lapar dalam puasa, menurutnya, bukan hanya rasa fisik, tetapi simbol pengosongan diri.

Kekosongan itu memberi ruang untuk berpikir dan merenung, lalu diisi dengan kesadaran untuk lebih taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Lapar juga menjadi cara melemahkan ego. Puasa melatih manusia meredam nafsu untuk menguasai, memiliki, dan mengejar ambisi yang bisa menjauhkan dari rida Allah SWT.

Dengan puasa, seseorang belajar mengendalikan diri dan mengurangi dominasi hawa nafsu.

Dalam tausiahnya, ia juga mengutip pandangan Imam Al-Ghazali tentang tiga tingkatan puasa: puasa orang umum yang menahan lapar dan haus; puasa orang khusus yang menjaga diri dari maksiat; dan puasa tingkat tertinggi yang menjaga lahir dan batin dari segala hal yang menjauhkan diri dari Allah.

Andi Harun juga mengingatkan agar ibadah Ramadan tidak sekadar menghitung pahala atau jumlah bacaan Al-Qur’an, tetapi melahirkan dampak nyata dalam perilaku sosial. Puasa harus menghadirkan perubahan, sekecil apa pun, sebagai bagian dari proses menuju takwa.

Di akhir tausiah, Andi Harun berharap puasa benar-benar menghadirkan nurul qulub, cahaya kepatuhan dalam hati sebagai bukti iman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ramadan baginya kesempatan untuk memperbaiki diri secara bertahap, melemahkan ego, memperkuat pengendalian diri, dan menjadikan hidup sebagai perjalanan sadar menuju takwa.

Related posts

Menunggu SE Kemenaker, Disnaker Samarinda Siapkan Posko Pengaduan THR

Andika

5 Sektor Terapkan Upah di Atas UMK, Disnaker Samarinda Tegaskan THR Tak Boleh Dicicil

Andika

Proyek Terowongan, Kini Masa Pemeliharaan dan Masih Menjadi Tanggungjawab Kontraktor

Andika