infosatu.co
Artikel

3 Tahun Mengenal Mohammad Sukri: Sahabat yang Energik

Teks: Momen foto bersama CEO MSI Group Mohammad Sukri, di Pantai Pemedas Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, infosatu.co — Jika ada satu kata yang paling tepat menggambarkan Mohammad Sukri, mungkin itu adalah: energik.

Bagi sebagian orang, usia sering menjadi alasan untuk memperlambat langkah. Tapi tidak bagi pria yang akrab disapa Sukri tersebut.

Di usia yang tak lagi muda, geraknya justru terasa lebih cepat dari kami yang jauh lebih muda. Jadwalnya padat, perjalanannya sering mendadak dan diskusi bisa berlangsung berjam-jam.

Selama hampir tiga tahun bekerja bersamanya, saya sering ikut dalam berbagai perjalanan. Kadang untuk liputan, kadang untuk urusan media, tak jarang juga untuk mendampingi acara pertemuan organisasi baik dalam maupun luar daerah.

Dari situ, saya semakin mengenal sosoknya.

Ada saja ide yang tiba-tiba muncul di tengah jalan. Kadang tentang pengembangan media. Kadang tentang masa depan jurnalisme daerah. Begitulah dia, dengan segala rencana ‘dadakan’nya. Kita dituntut harus siap.

Di mata saya, Sukri bukan hanya seorang pimpinan media. Ia adalah orang yang selalu bergerak. Bahkan, saya yang justru kewalahan dan tidak mampu mengimbangi geraknya.

Hari Kepergian

Namun siang itu, Kamis, 16 April 2026, semuanya berubah dengan sangat cepat.

Sekitar pukul 12.16 WITA, sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel saya dari salah satu karyawan yang berkantor di kediaman Sukri. Siang itu saya sedang menjalankan tugas liputan di DPRD Kalimantan Timur.

Suara di ujung telepon terdengar terburu-buru.

“Adi dimana? bergeser kesini (kantor), bapak ngga sadar.”

Kalimat itu terasa seperti berhenti di udara beberapa detik. Saya sempat terdiam. Pikiran seperti menolak memproses apa yang baru saja saya dengar.

Respon saya singkat, “Oke aku ke kantor sekarang.” Saya segera menutup telepon dan meninggalkan lokasi liputan.

Ketika saya tiba di rumahnya yang juga sekaligus menjadi kantor media di kawasan Perum Mediterania, beberapa karyawan sudah berada di sana. Tidak banyak yang berbicara. Hanya menyampaikan posisi Sukri saat itu berada.

Saya mendekat. Refleks saya menyentuh tangannya. Dingin mulai terasa. Saya memegang dadanya, mencoba memastikan sesuatu yang sebenarnya masih saya tolak untuk percaya.

Tubuh tegapnya saya goyangkan perlahan. Namun tidak ada respons.

Saat itu pikiran saya seperti menolak membentuk kesimpulan apa pun. Kami semua masih berharap.

Keputusan kemudian diambil dengan cepat. Sukri harus segera dibawa ke rumah sakit.

Tujuan kami adalah RS Hermina Samarinda, yang jaraknya sekitar delapan menit dari kediaman. Sukri kemudian dibawa menggunakan ambulans relawan.

Saya mengiringi menggunakan sepeda motor. Selama perjalanan, saya hanya berharap semua baik-baik saja. Meski semua perkiraan itu sudah melayang di kepala.

Sesampainya di Instalasi Gawat Darurat, tim medis segera melakukan pemeriksaan. Kami semua membersamai.

Selang beberapa waktu, sekitar pukul 12.50 WITA, kabar itu disampaikan.

“Hasil pemeriksaan, detak jantung sudah flat, pupil sudah memutih dan melebar,” kata tim medis yang baru saja melakukan pemeriksaan.

Pihak RS menyatakan Mohammad Sukri meninggal dunia di usia 58 tahun.

Kalimat itu singkat. Tapi terasa berat. Tak ada yang menyangka.

Sebab di hari itu juga, beberapa karyawan masih bertemu di pagi harinya. Masih bertegur sapa, hingga minta dibuatkan sarapan oleh anaknya sekitar pukul 08.30 WITA.

Hari sebelumnya, Rabu, 15 April 2026, semua masih tampak baik-baik saja. Bahkan, sore hari kami mengadakan rapat redaksi dadakan terkait pembagian tugas untuk menempuh sertifikasi Dewan Pers.

Sertifikasi ini untuk media Narasi.co dan Natmed.id, menyusul infosatu.co dan insitekaltim.com yang sudah lebih dulu terverifikasi dewan pers.

Semangatnya masih sangat terlihat. Tak nampak tanda apa pun. Sehat, bugar, energik seperti biasanya.

“Setelah kita menyelesaikan sertifikasi dewan pers ini, tuntas untuk kita memenuhi standar pengelolaan media,” katanya dengan penuh optimis.

Kepergian yang Mengejutkan Dunia Pers Kaltim

Kepergian Sukri meninggalkan kehilangan yang tidak kecil bagi dunia pers di Kalimantan Timur.

Kabar itu menyebar cepat di kalangan jurnalis Samarinda dan kalangan organisasi nasional. Banyak yang terkejut. Sebab bagi banyak orang, Sukri bukan hanya pemilik media, tetapi juga bagian dari perjalanan panjang pers di Benua Etam.

Selama lebih dari dua dekade, ia dikenal sebagai salah satu sosok yang aktif mendorong perkembangan media di daerah ini.

Mungkin tidak banyak yang tahu, perjalanan Sukri tidak langsung dimulai dari ruang redaksi.

Di masa mudanya, lelaki bertubuh tinggi 175 cm itu juga pernah menapaki dunia olahraga. Sukri pernah berdiri di tengah lapangan hijau sebagai wasit nasional di bawah naungan PSSI, memimpin pertandingan dengan peluit di tangan.

Dari lapangan sepak bola, jalan hidupnya kemudian berbelok kedunia jurnalistik.

Kariernya dimulai dari “Sinar Pagi” Jakarta, lalu berlanjut ke “Koran KPK”, sebelum akhirnya bekerja di beberapa media lain, termasuk ANTV dan “Radio Antara”.

Membangun Jaringan Media dari Samarinda

Pengalaman panjang di berbagai media itu perlahan membentuk satu keyakinan. Bahwa suatu hari ia ingin membangun medianya sendiri.

Langkah itu kemudian benar-benar ia wujudkan.

Dari sebuah media bernama Informasi Situasi Terkini Kalimantan Timur atau yang dikenal Insitekaltim.com, Sukri mulai merintis jaringan media yang perlahan berkembang menjadi Media Sukri Indonesia atau MSI Group.

Seiring waktu, jumlah medianya bertambah.

Hingga akhir hayatnya, Sukri tercatat memiliki lima media siber: Infosatu.co, Insitekaltim.com, Narasi.co, Natmed.id, serta yang terbaru Sukri.id yang rencananya akan rutin membuat majalah.

Lebih dari itu, kontribusinya tidak berhenti pada membangun perusahaan media.

Ia juga menjadi salah satu tokoh yang mendorong terbentuknya Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) di Kalimantan Timur.

Organisasi ini menjadi wadah bagi perusahaan media siber untuk saling terhubung dan memperkuat ekosistem jurnalisme digital.

Sukri dipercaya menjadi Ketua JMSI Kalimantan Timur untuk periode 2020-2025. Ia dan pengurus lainnya dilantik di Samarinda pada 2022 oleh Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa.

Kepemimpinannya yang aktif membuatnya kembali dipercaya memimpin untuk periode berikutnya, 2025-2030. Ia terpilih secara aklamasi.

Di tengah kesibukan itu, ia juga terus menekankan pentingnya profesionalisme dalam jurnalisme.

Pria kelahiran Sumenep, 1 Agustus 1967 itu tercatat telah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) hingga tingkat Madya, satu tingkat di bawah Level Wartawan Utama, jenjang tertinggi dalam standar kompetensi wartawan di Indonesia.

Bagi banyak jurnalis muda yang bekerja bersamanya, ia bukan hanya pemilik media. Ia adalah mentor.

Pertemuan Pertama Kami di Samarinda

Sedikit bercerita kebelakang, bagi saya pribadi, Sukri juga menjadi orang penting yang memperkenalkan saya kepada dunia jurnalistik di Kalimantan Timur, khususnya Samarinda.

Saya datang ke Bumi Etam pada 2023 tanpa banyak mengenal peta media di daerah ini. Pertemuan pertama kami terjadi di sebuah rumah di kawasan Perum BIP Blok M-15.

Di sanalah saya pertama kali bertemu dengan Mohammad Sukri. Sambutannya hangat. Jamuan sederhana membuat suasana terasa lebih santai.

Keesokan harinya, ia langsung memberi saya tugas liputan pertama di Samarinda.

“Adi, ada acara Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi di Hotel Aston. Coba kamu datang ke sana, sekalian belajar,” katanya waktu itu.

Itulah liputan pertama saya di kota ini. Yang juga sangat dadakan tanpa melihat pertimbangan bahwa saya baru saja datang dan masih perlu arahan.

Kebersamaan yang Ia Bangun

Teks: Momen CEO MSI Group bersama jajaran staf dan wartawan saat menerima hadiah usai mengikuti lomba internal.

Di MSI Group, Sukri menanamkan satu hal yang selalu ia ulang dalam berbagai kesempatan: kebersamaan.

Bagi dia, ruang redaksi tidak boleh terasa seperti jarak antara atasan dan bawahan. Ia tidak menyukai sekat yang terlalu kaku antara pimpinan dan wartawan.

“Kita makan sama-sama, ngopi sama-sama. Tidak ada beda,” katanya suatu kali dalam obrolan santai di kantor.

Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Maka dari itu, ia lebih ingin dianggap sebagai rekan, teman, bahkan sahabat. Daripada dianggap sebagai sosok bos yang kesannya akan memberi jarak terhadap karyawannya.

Selama bekerja bersamanya, ada beberapa kalimat sederhana yang sering Ia sampaikan kepada saya.

Namun sebelum itu, saya juga harus mengakui bahwa gaya kepemimpinannya terbilang cukup keras dan kritis. Tidak semua orang mungkin langsung merasa nyaman dengan cara itu.

Ia bisa sangat tegas ketika membahas pekerjaan. Kritiknya sering disampaikan secara langsung, tanpa banyak basa-basi.

Namun seiring waktu saya mulai memahami, sikap itu bukan tanpa alasan. Baginya, standar yang tinggi adalah cara untuk mendorong kami agar terus berkembang.

Di sela-sela berbagai kesempatan, ia juga sering menyelipkan nasihat sederhana kepada saya.

“Adi, semua pasti bisa kalau kita mau belajar.”

Menurutnya, wartawan tidak boleh berhenti belajar. Dunia jurnalistik terus berubah, dan hanya mereka yang mau belajar yang bisa bertahan.

Lebih dari itu, di banyak perusahaan, loyalitas sering dituntut dari karyawan. Namun Sukri justru memilih membangunnya melalui kepercayaan dan kesempatan.

Salah satunya dengan memberi ruang pengalaman kepada para wartawan.

Dalam setahun, wartawan MSI Group bisa merasakan pengalaman liputan lintas daerah bahkan lintas negara seperti Malaysia. Hingga perjalanan darat melintasi Pulau Jawa-Jakarta, Surabaya, Malang dan Yogyakarta.

Bagi sebagian orang, perjalanan seperti itu mungkin hanya terjadi sekali dalam setahun, bahkan belum tentu. Namun bagi Sukri, perjalanan bukan sekadar hadiah.

Ia sering mengatakan jika wartawan harus banyak melihat dunia agar cara pandangnya semakin luas. Saya pernah merasakan langsung bagaimana ia memaknai perjalanan itu.

Perjalanan terakhir yang saya dampingi bersamanya terjadi pada Februari 2026 saat menghadiri Rakornas JMSI dan Hari Pers Nasional di Banten.

Kami berangkat dari Samarinda menggunakan mobil. Menyebrang dari Balikpapan ke Surabaya dengan kapal selama 30 jam, lalu melanjutkan perjalanan darat dari Surabaya menuju Jakarta yang memakan waktu sekitar 13 jam.

Bagi saya perjalanan itu terasa panjang dan melelahkan. Namun saya heran, baginya, semuanya tampak biasa saja.

Bahkan setelah acara selesai, perjalanan belum benar-benar berakhir. Kami masih sempat mampir ke Madura, tepatnya ke Sumenep kampung halamannya.

Baru setelah itu perjalanan panjang kembali menuju Samarinda diselesaikan. Total perjalanan itu berlangsung sekitar 14 hari.

“Viral Sementara, Kredibel Selamanya”

Teks: CEO MSI Group saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan Berita dan Produksi Konten Visual di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada Rabu, 15 April 2026.

Dalam banyak kesempatan, Sukri juga hampir selalu menyelipkan kalimat-kalimat motivasi kepada wartawan yang bekerja bersamanya.

“Semua pasti bisa jika kita mau belajar.”

“Jangan pernah berhenti belajar.”

“Kita ini harus terus belajar kreatif.”

Kalimat itu sering ia ulang, baik dalam rapat redaksi, perjalanan liputan, maupun dalam obrolan santai. Bahkan saking seringnya, saya cukup bosan juga mendengarkan kalimat yang itu-itu saja.

Tapi itulah Mohammad Sukri, yang selalu berusaha memotivasi karyawan-karyawannya.

Ada satu kalimat yang baru-baru ini menjadi memorable untuk banyak jurnalis.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan Berita dan Produksi Konten Visual di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada Rabu, 15 April 2026. Tepat sehari sebelum ia wafat.

Di depan peserta, ia menyampaikan satu kalimat yang sederhana, tapi kuat.

“Viral itu bersifat sementara, kredibel selamanya.”

Kalimat itu terasa seperti ringkasan dari cara Sukri memandang jurnalisme.

Di tengah dunia digital yang sering mengejar kecepatan dan sensasi, ia selalu mengingatkan kepada kami semua jika kredibilitas jauh lebih penting daripada sekadar menjadi viral.

Bagi Sukri, kepercayaan publik adalah hal yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.

Energi yang akan Terus Mengalir

Kini, ketika mengingat kembali hari-hari bekerja bersamanya, yang paling terasa bukan hanya kehilangan seorang pimpinan. Tetapi kehilangan seseorang yang selalu bergerak.

Seseorang yang hampir tidak pernah terlihat kehabisan energi. Sering kali, bahkan setelah perjalanan panjang atau agenda yang padat, ia masih memiliki semangat untuk berdiskusi.

Ide-idenya seperti tidak pernah habis. Kadang saya sendiri merasa lelah lebih dulu. Kini, energi itu memang telah berhenti pada siang hari Kamis itu.

Namun jejak yang ia tinggalkan melalui media yang ia bangun, organisasi yang ia rintis, dan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya akan terus hidup.

Almarhum dikebumikan pada Jumat, 17 April 2026 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim Karang Mulya, Kelurahan Lok Bahu, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Tulisan ini menjadi ungkapan terakhir dari saya terhadap sosoknya yang tentu ia tidak bisa baca atau komentari seperti sebelumnya. Dari sahabat yang tak mengenal sosoknya sejak lama seperti rekan seperjuangan lainnya.

Tapi saya ingin menegaskan, tak ada orang yang sempurna. Namun, selama saya mengenal beliau, Mohammad Sukri adalah sosok pribadi yang royal, senantiasa memperhatikan karyawannya, inspiratif dan sangat energik.

*) Adi Rizki Ramadhan, wartawan Infosatu.co/Narasi.co

Related posts

5 Rekomendasi Film Serial Detektif bagi Pecinta Misteri dan Teka-Teki

Firda

Film ‘Thrash’ Tempati Posisi Top 10 Netflix Indonesia, Suguhkan Ancaman Badai dan Hiu

Firda

Warles BM 2, Prasmanan Harga Sederhana yang Jadi Kebanggaan Warga Kanigaran

Zainal Abidin