Samarinda, infosatu.co – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim), menerapkan strategi ganda dalam mengakselerasi penurunan angka stunting di Kota Tepian.
Langkah ini memadukan gerakan intervensi fisik di lapangan, dengan program pendampingan jangka panjang bagi keluarga berisiko.
Salah satu kegiatan besarnya adalah mobilisasi 748 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk melakukan pengawasan kesehatan masyarakat secara masif pada akhir April 2026.
Kepala DP2KB Kota Samarinda, Deasy Evriyani menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan komitmen instansinya dalam mengawal gerakan intervensi serentak.
“Kami juga mendukung yang namanya intervensi gerakan pencegahan stunting ya. Nah, ini akan dilaksanakan di tanggal 30 April dengan gerakan intervensi serentak pencegahan stunting bahwa 748 Posyandu se Kota Samarinda akan buka serentak,” ujarnya, Selasa, 28 April 2026.
Target utama dari aksi ini adalah memastikan pemantauan kesehatan bayi, balita, dan ibu hamil dilakukan secara menyeluruh dengan standar kunjungan minimal 80 persen.
Jika angka tersebut tidak tercapai, pihaknya telah menyiapkan skema jemput bola.
“Kita lihat capaian dari posyandu tersebut. Angka kunjungan bayi, balita, dan ibu hamil harus mencapai minimal 80 persen. Jika tidak mencapai, maka dibuka posyandu bayangan atau dilakukan home visit,” katanya.
Ini sangat berdampak pada kesehatan karena semakin banyak bayi dan balita diukur berat badannya, maka akan semakin terpantau potensi kelainan fisik yang terjadi pada mereka,” jelasnya.
Selain memperkuat fungsi posyandu, DP2KB juga mengandalkan program prioritas bertajuk Genting (Gerakan Orang Tua Jaga Stunting). Program ini dirancang untuk menjaring keterlibatan orang tua asuh dalam mendampingi keluarga yang masuk kategori rentan.
“Ini kami mencari orang tua asuh. Yang target tahun ini adalah 464 keluarga risiko stunting yang harus tuntas habis kami berikan bantuan,” ungkapnya.
Bantuan yang disalurkan melalui program Genting ini pun sangat komprehensif, mencakup perbaikan asupan gizi hingga pembenahan infrastruktur rumah tinggal bagi warga yang membutuhkan.
“Bantuan tersebut mencakup aspek nutrisi dan non-nutrisi. Untuk nutrisi, kami berikan asupan makan siang selama 10 hari. Sedangkan non-nutrisi menyasar perbaikan rumah keluarga berisiko stunting, seperti program bedah rumah, penyediaan jamban sehat, hingga akses air bersih,” ungkapnya.
Deasy berharap agar seluruh pihak dapat bersinergi dalam mempromosikan program Genting demi menyukseskan upaya penekanan angka stunting di Samarinda.
