infosatu.co
DISKOMINFO KALTIM

DP3A Kaltim Dorong Literasi dan Kewaspadaan Publik Cegah Kekerasan

Teks: Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalimantan Timur, Noryani Sorayalita.

Samarinda, infosatu.co – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Timur (Kaltim), Noryani Soryalita, menegaskan pentingnya edukasi dan peningkatan literasi masyarakat sebagai langkah awal dalam mencegah dan menangani kekerasan.

Lonjakan kasus dalam beberapa tahun terakhir membuat upaya bersama antara Pemerintah provinsi (Pemprov) dan masyarakat menjadi semakin mendesak.

Dengan Kota Samarinda, Balikpapan, dan Kukar tercatat sebagai daerah dengan angka kekerasan tertinggi di Kaltim, sejalan dengan tingginya jumlah penduduk dan kompleksitas masalah sosial di wilayah tersebut.

Menurut DP3A, masyarakat kini memiliki berbagai saluran pelaporan, mulai dari Sapa 129, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A), hingga Sistem Informasi Perlindungan Keluarga (SIPK) tingkat provinsi.

Serta sarana pelaporan yang dimiliki masing-masing kabupaten/kota di Kaltim.

“Upaya kita pertama memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakat, karena kekerasan ini cenderung meningkat dan perlu upaya kita bersama untuk mencegah maupun menangani jika itu terjadi,” ujarnya

Noryani juga mengingatkan bahwa sebagian besar pelaku kekerasan berasal dari lingkungan terdekat yang berarti orang yang dikenal.

Ia menghimbau masyarakat harus bersama-sama waspada terhadap lingkungan dan keluarga.

Meski demikian, ia menegaskan kewaspadaan tidak berarti masyarakat harus hidup dalam kecemasan berlebih.

Tantangan terbesar dalam penanganan kasus disebutkan berasal dari rendahnya kesadaran masyarakat.

Kondisi tersebut turut berdampak pada terjadinya kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk kasus bullying.

“Kita tidak bisa memprediksi siapa pelakunya, sehingga dunia pendidikan juga harus waspada. Banyak kasus bullying yang berdampak fisik maupun psikologis, bahkan sampai menghilangkan nyawa,” jelasnya.

Selain edukasi di tingkat keluarga dan masyarakat, DP3A juga turut melakukan sosialisasi mengenai dampak negatif teknologi digital kepada siswa-siswi dan mahasiswa di Kota Samarinda.

Langkah ini dilakukan untuk menekan potensi kekerasan berbasis digital yang semakin meningkat.

DP3A menilai peningkatan angka laporan kekerasan tidak hanya menandakan jumlah kasus yang semakin tinggi.

Tetapi juga bentuk dari meningkatnya keberanian korban untuk melapor, serta kemudahan terhadap akses pelaporan.

“Kesadaran masyarakat khususnya korban untuk speak up meningkat, dan pelaporan kini lebih mudah. Ini menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat bahwa kasus benar-benar ditangani sampai selesai,” tegasnya.

DP3A juga berharap peningkatan kepercayaan masyarakat akan mendorong lebih banyak pelaporan kasus, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Related posts

Gubernur Kaltim Komitmen Pemerataan Pembangunan Wilayah Pedalaman Kaltim

Dhita Apriliani

Gubernur Kaltim Tegaskan Arah Kaltim Menuju Generasi Emas

Dhita Apriliani

2 Kali Ditabrak Tongkang, PUPR Investigasi Struktur Jembatan Mahulu

Dhita Apriliani

Leave a Comment

You cannot copy content of this page