Samarinda, Infosatu.co – Dari 40 karya yang ditampilkan 20 seniman dalam Pameran Seni Rupa Di Balik Situs ada satu karya yang menawarkan keunikan tersendiri. Bukan sekadar lewat visual, justru lewat material yang digunakan dalam lukisan tersebut adalah “Emas Hitam Kalimantan”, batu bara yang selama ini lekat dengan identitas dan kehidupan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim).

Lukisan berjudul Jejak Purba di Nadi Bumi itu lahir dari tangan Dharmawan Budhi Utomo, perupa asal Surabaya yang menetap di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sejak 2005.
Melalui perpaduan batu bara dan cat akrilik di atas kanvas berukuran 80 x 100 sentimeter, ia merangkai jejak manusia purba dengan gambaran kehidupan masa kini.
Pameran yang diinisiasi Lembaga Perupa Kalimantan Timur (LPKT) tersebut menjadi ruang bagi Dharmawan untuk menghadirkan kembali karya yang sebenarnya telah ia selesaikan pada 2020. Selama bertahun-tahun, lukisan itu tersimpan di gudang dan baru kembali dibawa ke hadapan publik melalui pameran yang mengangkat cerita di balik situs warisan budaya.
Bagi Dharmawan, batu bara bukan sekadar bahan yang ditempelkan pada kanvas untuk menghasilkan tekstur. Material itu merepresentasikan masa kini, terutama kehidupan Kutai Timur yang lekat dengan aktivitas pertambangan.
Sementara itu, jejak telapak tangan manusia purba yang menjadi inspirasi visualnya mengarah pada peninggalan seni cadas di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Nilai penting jejak tersebut juga tercermin dalam kajian arkeologi. Kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan ribuan gambar cadas yang tersebar di puluhan situs gua.
Penelitian arkeolog Bambang Sugiyanto yang diterbitkan dalam jurnal Naditira Widya mencatat, gambar telapak tangan merupakan bentuk yang paling dominan di kawasan tersebut, dengan beragam pola dan variasi. Jejak itu menjadi bagian dari peninggalan seni prasejarah yang membantu peneliti memahami perkembangan budaya manusia pada masa lampau.
UNESCO juga mencatat kawasan Sangkulirang-Mangkalihat dalam daftar tentatif Warisan Dunia yang diajukan Indonesia pada 2015. Dalam dokumentasinya, gambar cadas di kawasan ini dinilai penting sebagai bukti kehidupan masyarakat pemburu-peramu prasejarah dan interaksi mereka dengan lingkungan.
Artinya, jejak tangan yang menjadi inspirasi Dharmawan memiliki konteks yang lebih luas daripada bentuk visual semata. Ia merupakan bagian dari warisan budaya yang merekam keberadaan manusia di Kalimantan sejak ribuan tahun lalu.
“Di lukisan ini ada masa purba dan masa kini. Jejak tangan itu peninggalan zaman purba, sedangkan batu bara identik dengan kekayaan alam Kutai Timur saat ini,” kata Dharmawan kepada infosatu.co di sela pameran yang diselenggarakan di Balai Pelestarian Kalimantan Timur, Senin, 12 Oktober 2026.
Melalui perpaduan dua unsur tersebut, ia mempertemukan jejak peradaban masa lampau dengan salah satu penanda kehidupan ekonomi modern di Kaltim. Kanvas menjadi ruang pertemuan antara peninggalan manusia purba dan batubara yang identik dengan Kutai Timur.
Batu Bara yang Tidak Mudah Ditaklukkan
Gagasan itu membutuhkan proses pengerjaan yang tidak sederhana. Dharmawan memperkirakan perlu waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikan lukisan tersebut. Sebelum menempelkan batu bara ke kanvas, ia harus memecah material itu dan memilih potongan yang sesuai dengan kebutuhan komposisi.
Tantangan terbesar justru muncul ketika mencari perekat. Karakter permukaan batu bara yang licin membuat material itu tidak mudah menempel. Ia harus mencoba beberapa jenis lem sebelum menemukan bahan yang cocok untuk mempertahankan susunan batu bara pada kanvas.
“Awalnya untuk merekatkan batu bara itu sulit karena licin. Beberapa lem sudah saya coba sampai akhirnya menemukan bahan yang cocok,” ujarnya menceritakan tantangan saat proses pembuatan.
Penggunaan batu bara juga menghadirkan tekstur yang berbeda dari lukisan yang hanya mengandalkan cat. Permukaan material yang tidak rata membangun dimensi visual tersendiri, sementara kilau hitamnya tetap terlihat meskipun telah melalui proses pengolahan dan pengeringan.
Dharmawan mengaku karya tersebut sempat lama tidak tersentuh setelah selesai dibuat. Ia baru teringat kembali ketika pameran bertema situs dan warisan budaya memberi kesempatan untuk menampilkan lukisan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kawasan karst di Kaltim.
Tema Di Balik Situs membuat karya itu menemukan konteks baru. Jejak purba yang diangkatnya tidak berdiri sendiri sebagai objek visual, tetapi hadir dalam pembicaraan yang lebih luas mengenai peninggalan budaya dan identitas daerah.
Dua Dekade Menempa Diri di Dunia Seni
Perjalanan Dharmawan sebagai perupa telah dimulai sejak kecil. Lahir dan besar di Surabaya, ia mulai menyukai kegiatan menggambar sejak kelas III sekolah dasar. Ketika SMA, ia belajar melukis secara otodidak, sebelum bersama tiga rekannya mendirikan Galeri Lukisan Benk atau Bengkel Kreatif di Surabaya pada 1995-1998.
Ia kemudian mengembangkan keterampilannya di Bali pada 1998-2002 dengan melukis menggunakan teknik airbrush pada miniatur surfing dan aksesori. Setelah menetap di Sangatta pada Juli 2005, ia melanjutkan perjalanan berkesenian di Kutai Timur.
Pada 2014, Dharmawan bersama sejumlah perupa mendirikan Komunitas Perupa Sangatta (K-Pus), tempat ia dipercaya menjadi ketua. Ia juga bergabung dengan Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Kutai Timur pada 2018 serta Lembaga Perupa Kaltim dan Komunitas Perupa Kalimantan pada 2019.
Pengalamannya turut mencakup kegiatan pendidikan dan seni publik. Pada 2025, ia menjadi juri cabang Gambar Ekspresi dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat sekolah dasar Kabupaten Kutai Timur.
Pada tahun yang sama, ia ikut dalam kegiatan melukis mural sepanjang 45 meter bersama 17 pelukis untuk memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di lobi Kantor Bupati Kutai Timur.
Pada 2026, ia mengikuti sejumlah pameran, di antaranya Pameran Lukisan Nasional Rupa Karya Nusantara di Surabaya, Pameran Lukisan Warisan Budaya Benda dan Tak Benda Kutai Timur di Sangatta, serta Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 bertajuk Cultural Nuances di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Bagi Dharmawan, berkesenian merupakan hal yang ia jalani dengan rasa syukur. Ia menganggap kemampuan melukis sebagai anugerah yang membuatnya terus menghasilkan karya, sekalipun tidak semua proses penciptaan berjalan sesuai harapan.
“Seniman itu menyenangkan. Ini kelebihan yang diberikan Tuhan. Maka itu saya bersyukur dan selalu berkarya,” tuturnya saat ditanya alasan memilih jalan sebagai seorang seniman.
Penjiwaan di Tengah Kemudahan Teknologi
Di tengah perkembangan teknologi digital saat ini, Dharmawan menyadari bahwa seni rupa menghadapi perubahan besar. Komputer, aplikasi menggambar, hingga kecerdasan buatan (AI) membuat proses menghasilkan gambar semakin mudah diakses, termasuk oleh generasi muda.
Bagi seniman yang mengandalkan proses manual, perkembangan tersebut menjadi tantangan. Namun, Dharmawan meyakini karya yang dikerjakan secara langsung dengan tangan tetap memiliki nilai melalui filosofi, makna, dan penjiwaan yang menyertainya.
“Itu memang tantangan. Tapi kita tetap yakin, karena karya manual itu yang penting ada filosofi dan arti. Penjiwaan itu masih ada. Kalau lukisan begini, saya merasa semua yang ada di dalam hati tercurahkan,” katanya.
Keyakinan tersebut sejalan dengan pendekatan yang ia hadirkan dalam Jejak Purba di Nadi Bumi. Batu bara tidak hanya menjadi material pembentuk lukisan, tetapi juga membawa identitas Kutai Timur ke dalam karya yang berbicara tentang masa lampau.
Di antara hitam batu bara dan guratan terang yang membentuk komposisi lukisan, Dharmawan merangkai dua zaman dalam satu kanvas. Jejak manusia purba menjadi pengingat bahwa jauh sebelum batu bara dikenal sebagai komoditas ekonomi, kawasan yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kaltim telah menyimpan cerita tentang manusia dan peradabannya.
