Samarinda, Infosatu.co – Perkembangan industri kopi di Kaltim tidak hanya terlihat dari pertumbuhan kedai dan konsumsi kopi, tetapi juga dari munculnya inovasi produk serta sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Hal itu tercermin dari kiprah Joese Andrew yang berhasil meraih posisi juara dua nasional Cangkir Barista 2026. Ajang yang digelar Bank Indonesia (BI) tersebut diikuti sekitar 2.500 peserta dari berbagai daerah sebelum melalui sejumlah tahapan seleksi hingga menyisakan 24 peserta pada babak open service di Jakarta.
Joese mengatakan kompetisi tersebut tidak sekadar menguji kemampuan peserta dalam meracik kopi. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai kompetensi kopi dan pengembangan bisnis.
“Yang kedua kita ada untuk pengembangan bisnis, jadi kita disuruh buat proposal bisnis,” kata Joese.
Dari sekitar 2.500 peserta, proses seleksi berlanjut menjadi 400 peserta, kemudian 60 peserta hingga akhirnya 24 peserta yang mengikuti babak open service. Pada tahap itu, kemampuan peserta dinilai dari aspek teknis pembuatan kopi hingga kemampuan menyampaikan karakter minuman kepada juri.
Dari Kaltim terdapat tiga barista yang berhasil mencapai babak final, yakni dirinya, Nanda dari Samarinda, dan Aldi dari Sisan Tenggarong.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kapasitas barista Kaltim dalam industri kopi nasional. Kata dia, tantangan yang dihadapi pelaku kopi di daerah salah satunya berkaitan dengan akses terhadap biji kopi dan ekosistem industri.
“Bukan mencari tenarnya, bukan mencari juaranya, tapi kami ingin buktiin bahwa barista Kaltim bisa di tingkat nasional,” ujarnya.
Pengembangan industri kopi juga dilakukan melalui inovasi menu dan kolaborasi antarpelaku usaha. Dalam kegiatan charity brew di Toko Kopi Lajeng, misalnya, biji kopi dari sejumlah roastery dipadukan untuk menghasilkan produk dengan karakter berbeda.
Sementara itu, pemilik Futura Crema, Daffa mengembangkan signature beverage bernama Charity dengan metode cold brew. Minuman tersebut menggunakan kopi Arabika Tenjolaya dari Toko Kopi Lajeng, biji Manglayang Wine, serta sejumlah bahan lain untuk membentuk karakter rasa dan aroma.
Menurut Daffa, pengembangan produk minuman membutuhkan proses research and development (R&D), terutama dalam menentukan komposisi antara kopi, foam, dan bahan pendukung.
“R&D-nya memang ribet karena kita kan bobotnya foam sama liquid berbeda, jadi kita sesuaikan,” jelasnya.
Kolaborasi juga melibatkan Triton Coffee Roastery Samarinda sebagai salah satu penyedia biji kopi. Antony menjelaskan, dalam salah satu racikan, memadukan 16 gram kopi Tenjolaya dengan dua gram Excelsa dari Triton Coffee Roastery.
Pemilihan bahan tersebut dilakukan untuk menciptakan karakter rasa tertentu sekaligus memperkenalkan jenis kopi yang belum banyak dikenal konsumen.
Selain minuman, inovasi produk dikembangkan melalui makanan pendamping berupa sourdough yang dibuat secara homemade. Produk tersebut menjadi bagian dari rangkaian sajian yang dirancang untuk melengkapi pengalaman konsumen menikmati kopi.
Rangkaian inovasi tersebut menunjukkan bahwa bisnis kopi tidak hanya bertumpu pada penjualan minuman, tetapi juga dapat berkembang melalui kreativitas menu, pemanfaatan bahan baku dari berbagai daerah, keterampilan barista, hingga kolaborasi antara kedai dan roastery.
Di sisi lain, kegiatan charity brew selama tiga hari turut menggerakkan partisipasi konsumen melalui penggalangan dana bagi masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan Barat. Dana yang terkumpul disebut berada pada kisaran Rp5 juta hingga Rp10 juta, dan seluruh hasil penggalangan akan didonasikan.
Daffa mengatakan, penggalangan dana tersebut juga akan dilanjutkan di luar kegiatan charity brew untuk memperluas bantuan kepada masyarakat terdampak.
Dengan semakin banyaknya pelaku yang mengembangkan keterampilan, produk, dan kolaborasi, ekosistem kopi Kaltim tidak hanya bergerak dari sisi konsumsi, tetapi juga mulai membangun nilai tambah melalui kreativitas dan pengembangan usaha.
