Samarinda, Infosatu.co – Pertanian yang produktif tidak hanya ditentukan oleh kualitas benih dan kesuburan tanah, tetapi juga kemampuan petani mengendalikan hama secara tepat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Semangat tersebut menjadi perhatian dalam penutupan kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) Kelompok Tani (Poktan) Panca Usaha di Jalan Usaha Tani, Betapus, Kelurahan Lempake, Kota Samarinda, Senin, 26 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Lempake, Euis Nurfaridah, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya peningkatan kapasitas petani dalam mengelola usaha pertanian secara efektif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan hasil panen.
Ia menyampaikan, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menjadi salah satu pendekatan penting dalam membantu petani menghadapi persoalan organisme pengganggu tanaman dengan mempertimbangkan aspek efektivitas, efisiensi, dan kelestarian lingkungan.
“Melalui kegiatan PPHT ini, kami berharap para petani mendapatkan tambahan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung di lahan pertanian. Pengendalian hama perlu dilakukan dengan tepat agar produktivitas pertanian tetap terjaga tanpa mengabaikan keseimbangan lingkungan,” ungkap Euis.
Euis menjelaskan, kegiatan PPHT tidak sekadar menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga mendorong petani untuk lebih memahami kondisi tanaman, mengenali potensi serangan hama, serta menentukan langkah pengendalian yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Dengan pemahaman tersebut, petani diharapkan mampu menerapkan metode pengendalian yang lebih terukur dan tidak hanya bergantung pada penggunaan pestisida.
Pendekatan terpadu dapat melibatkan pemantauan rutin, pemanfaatan musuh alami, praktik budidaya yang tepat, serta penggunaan pestisida secara bijaksana apabila diperlukan.
“Petani perlu memiliki kemampuan untuk mengenali masalah sejak dini dan menentukan cara penanganan yang sesuai. Dengan penerapan pengendalian hama terpadu, kita berharap risiko kerusakan tanaman dapat ditekan dan penggunaan sarana produksi menjadi lebih bijak,” jelas Euis.
Menurutnya, peningkatan kapasitas petani merupakan bagian penting dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian di wilayah Lempake.
Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan pendampingan diharapkan tidak berhenti setelah program berakhir, tetapi terus diterapkan dan dikembangkan sesuai kondisi lahan masing-masing.
Untuk itu, Euis berharap para anggota Poktan Panca Usaha dapat saling berbagi pengalaman dan memperkuat kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan pertanian, mulai dari serangan hama hingga upaya menjaga kualitas hasil panen.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh selama kegiatan ini dapat diterapkan secara konsisten. Petani juga dapat saling bertukar pengalaman agar pengetahuan yang dimiliki semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi kelompok maupun lingkungan pertanian di sekitarnya,” pungkasnya. (ADV)
