Samarinda, Infosatu.co – Menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang berfluktuasi menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Berbagai langkah disiapkan untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali, mulai dari memperbanyak operasi pasar, memperkuat kerja sama perdagangan antardaerah, hingga memantau pergerakan harga komoditas secara rutin.
Kepada awak media, asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengungkapkan daya beli masyarakat menunjukkan pergerakan yang naik turun, dengan kecenderungan melemah belakangan ini.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah meningkatkan intervensi pasar agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga terjangkau.
“Kita sudah minta Dinas Perdagangan kemudian Ketahanan Pangan untuk melakukan gerakan-gerakan operasi pasar. Itu yang kita lakukan,” ungkap Marnabas ditemui awak media, Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurutnya, melemahnya daya beli perlu dicermati di tengah berkurangnya Transfer ke Daerah (TKD) yang berpotensi memengaruhi perputaran uang di daerah.
Ketika aliran dana ke daerah menyusut, aktivitas ekonomi dan kemampuan belanja masyarakat dapat ikut terdampak. Karena itu, Pemkot Samarinda berupaya mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi lokal.
Marnabas menyebutkan pesan Wali Kota Samarinda agar seluruh jajaran tidak larut dalam keluhan, melainkan tetap mencari solusi atas tantangan yang dihadapi.
“Mudah-mudahan di 2027 kita sudah bisa enjoy kembali sehingga kita bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita harapkan,” ucapnya.
Selain memperbanyak operasi pasar bersama Bank Indonesia (BI), Pemkot Samarinda memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan mengendalikan harga bahan pokok.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui rapat evaluasi inflasi nasional bersama Menteri Dalam Negeri setiap Senin. Forum tersebut menjadi sarana untuk memantau perkembangan harga sekaligus mengidentifikasi daerah yang memiliki surplus komoditas sehingga dapat memasok wilayah yang membutuhkan.
“Jadi mereka misalnya kayak Sulawesi kelebihan cabai kirim sini, Jawa bawang merah khususnya. Kalau bawang putih kan banyak impor,” jelas Marnabas.
Kerja sama perdagangan antardaerah tersebut akan diperkuat melalui Perumda Varia Niaga Samarinda dengan melibatkan perangkat daerah, pemasok, serta pengelola ritel dan pasar modern.
Pemerintah berharap distribusi komoditas dari daerah surplus dapat membantu memenuhi kebutuhan pasar Samarinda sekaligus mengurangi risiko ketimpangan pasokan yang berpotensi memicu kenaikan harga.
Menurut Marnabas, langkah ini penting agar pemerintah dapat mengantisipasi persoalan sebelum berdampak langsung terhadap masyarakat.
Di sisi lain, Pemkot Samarinda terus memantau perkembangan harga komoditas melalui aplikasi e-TEPIan. Data harga diperbarui setiap hari sekitar pukul 11.00 Wita dan dapat dipantau hingga ruang kerja wali kota sebagai bahan evaluasi dalam menentukan langkah antisipasi.
Marnabas menegaskan, pemantauan tersebut dilakukan agar pemerintah tidak terlambat bertindak ketika harga mulai meningkat atau persediaan barang mengalami gangguan.
“Kami ini terus memantau, tapi kan naik turun juga, fluktuatif juga (daya beli masyarakat). Jadi kadang-kadang naik, kadang-kadang turun, dan ini kan berlaku, saya pantau sih hampir seluruh Indonesia gitu,” tegas Marnabas.
Selain menjaga distribusi dan harga pangan, Pemkot Samarinda turut memperhatikan keberlangsungan produksi pertanian di tengah musim kemarau. Bantuan mesin pompa portabel disalurkan untuk membantu pengairan sawah dan perkebunan milik petani agar aktivitas produksi tetap berjalan.
“Ini juga kemarau ini kan kita pantau juga pertanian kita, makanya banyak dibantu mesin-mesin portable untuk mengaliri sawah, perkebunan,” pungkas Marnabas.
Melalui rangkaian langkah tersebut, Pemkot Samarinda berharap pasokan pangan tetap terjaga, tekanan inflasi dapat diantisipasi, dan daya beli masyarakat tetap terlindungi. (ADV)
