Samarinda, Infosatu.co – Sebanyak 40 karya lukis yang mengangkat situs bersejarah di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara) dipamerkan melalui kegiatan bertajuk ‘Di Balik Situs’. Pameran ini menjadi upaya mengenalkan jejak sejarah dan peradaban daerah kepada generasi muda melalui pendekatan seni rupa.

Ketua Lembaga Perupa Kalimantan Timur (LPK) Rohmad Taufik mengatakan situs bersejarah tidak semestinya hanya dipandang sebagai benda fisik. Di balik keberadaannya, terdapat cerita, peristiwa, dan perjalanan peradaban yang perlu digali agar tetap dikenal lintas generasi.
“Jangan dimaknai sebagai batu biasa atau benda biasa, tetapi benda itu punya sejarah, punya cerita, punya masa lalu, punya kehidupan, punya peradaban,” kata Rohmad saat pembukaan pameran di Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Jalan H.A.M. Rifaddin, Senin, 12 Oktober 2026.
Pameran tersebut diinisiasi LPK melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur. Sebanyak 20 perupa terlibat dengan menghadirkan karya dari beragam pendekatan, mulai dari realisme, kontemporer hingga ekspresionisme.
Rohmad menjelaskan, para seniman diberi kebebasan memilih situs di Kaltim maupun Kaltara sebagai objek lukisan. Mereka diharapkan melakukan riset terlebih dahulu untuk menggali cerita di balik situs, kemudian menerjemahkannya menjadi gagasan artistik.
Dengan pendekatan tersebut, karya yang dipamerkan tidak sekadar mereproduksi bentuk visual suatu situs. Setiap lukisan diharapkan membawa interpretasi dan pesan yang membantu pengunjung memahami nilai sejarah objek yang diangkat.
Proses kurasi juga dilakukan untuk menentukan seniman dan karya yang ditampilkan. Rohmad menyebut pihaknya mendapat pendampingan dari kurator nasional, yang menyiapkan tulisan untuk katalog pameran bersama ulasan dari LPK dan tanggapan sejumlah pihak.
Upaya memperkenalkan sejarah situs tidak berhenti pada pameran lukisan. LPK juga merencanakan lomba bercerita tentang situs untuk membawa kisah-kisah sejarah tersebut lebih dekat kepada masyarakat.
Rohmad berharap kegiatan itu dapat menjadi proyek percontohan di Kaltim sebelum dikembangkan ke tingkat regional Kalimantan, bahkan menjadi agenda nasional. Melalui lomba tersebut, cerita mengenai situs di daerah diharapkan dapat terdokumentasi dan dikenal lebih luas.
“Jadi kami ingin generasi muda tahu bahwa peradaban bangsa kita luar biasa,” ujarnya.
Selain mengangkat sejarah melalui karya lukis, LPK juga menyiapkan kegiatan melukis bersama maestro yang melibatkan pelajar SMA. Kegiatan tersebut dibuka bagi mereka yang ingin mengenal proses berkarya dan kehidupan di dunia seni rupa.
Rohmad mengatakan peminat kegiatan itu cukup banyak. Namun, karena keterbatasan waktu, jumlah peserta dibatasi sebanyak 50 orang.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya berbagi pengetahuan dan pengalaman berkesenian kepada generasi muda. Ia ingin memperlihatkan bahwa seni rupa menyediakan ruang bagi pengembangan ide, gagasan, dan kreativitas.
Di sisi lain, Rohmad menilai Kalimantan Timur masih membutuhkan ruang apresiasi yang lebih luas bagi para seniman. Ia menceritakan pengalamannya berkeliling ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa untuk melihat perkembangan seni dan kebudayaan.
Dalam perjalanan tersebut, ia bertemu dengan komunitas dan kegiatan seni yang memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan menghadirkan ruang pameran seni berskala lebih besar di Kaltim.
Rohmad menyebut gagasan seperti Art Samarinda atau Art Kalimantan menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi berbagai lembaga kesenian dan kebudayaan.
Menurutnya, Kaltim memiliki seniman dan potensi budaya yang dapat dikembangkan. Namun, upaya itu membutuhkan kerja sama antara komunitas seni, lembaga kebudayaan, pemerintah, media, serta pihak swasta.
Ia juga berharap Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem tersebut, sehingga kegiatan seni tidak hanya berlangsung sesekali, tetapi berkembang menjadi ruang pertemuan dan apresiasi yang berkelanjutan.
Rohmad mencontohkan kegiatan seni dan budaya di Bali yang melibatkan sektor perhotelan untuk mendukung penyelenggaraan acara sekaligus menarik kunjungan wisatawan. Pola kolaborasi serupa, menurutnya, dapat menjadi salah satu gagasan yang dipertimbangkan di Kaltim.
Tak hanya sampai pameran Di Balik Situs, Rohmad mengungkapkan dirinya memperoleh dukungan Dana Indonesia Raya untuk menggarap proyek pameran tunggal bertajuk The Power of Dayak, yang mengangkat kekuatan Dayak dalam kehidupan dan tradisi.
Proyek tersebut direncanakan berlangsung selama enam bulan, dengan proses riset untuk menggali tokoh, tradisi, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat Dayak di Kalimantan Timur yang relevan dengan tema pameran.
Rohmad mengatakan riset menjadi bagian penting dalam proyek tersebut. Ia berencana melibatkan kurator dari Galeri Nasional dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk mendampingi proses pengembangan gagasan dan karya.
Hasil proyek itu direncanakan dipamerkan di Kalimantan Timur, kemudian dilanjutkan ke Jakarta.
Ia berharap kolaborasi dengan komunitas, media, dan berbagai pihak dapat membantu memperkaya riset sekaligus memperluas pengenalan kebudayaan Dayak kepada masyarakat.
Bagi Rohmad, penguatan seni rupa daerah perlu berjalan beriringan dengan upaya menggali sejarah dan tradisi. Dengan dukungan ruang pamer, riset, serta kolaborasi lintas sektor, seniman Kaltim diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk memperkenalkan karya dan kekayaan budaya daerah ke tingkat nasional.
