Samarinda, Infosatu.co – Perumda Tirta Kencana Samarinda membatasi pengambilan air baku dari Intek Benanga menjadi sekitar 60 liter per detik untuk menjaga ketersediaan air di tengah kondisi debit yang terus menurun.
Direktur Teknik Perumda Tirta Kencana Kaharuddin mengatakan debit normal air baku dari Intek Benanga berada di kisaran 160-170 liter per detik. Namun, kondisi saat ini membuat pengambilan air harus dibatasi agar sumber air tidak sampai habis.
“Normalnya kan 160-170 liter per detik. Kita batasi 60 liter per detik, takutnya mati total,” ujarnya di BPBD Kota Samarinda, Jalan Sentosa, Jumat, 25 September 2026.
Meski debit dikurangi, produksi air tetap berjalan selama 24 jam. Pengurangan debit tersebut membuat Perumda tidak dapat mengoptimalkan distribusi air ke seluruh pelanggan secara bersamaan.
Karena itu, distribusi dilakukan secara bergilir berdasarkan zona aliran. Kaharuddin menyebut terdapat dua area yang menjadi pembagian zona, yakni area Panjaitan dan Gunung Kapur.
“Enggak bisa kita optimalisasi ke pelanggan secara bersamaan. Kita upayakan secara bergilir,” jelasnya.
Dengan pola tersebut, sebagian wilayah akan mengalami penghentian sementara aliran sebelum kembali mendapatkan pasokan. Perumda menargetkan penggiliran dilakukan maksimal sekitar tiga hari sebelum aliran kembali diberikan ke wilayah tersebut.
“Target kita tiga hari. Itu pun kita upayakan. Bisa dalam waktu hari keempat, mengalir lagi yang penggiliran tadi,” terangnya.
Ia menegaskan, pembatasan debit dilakukan untuk mempertahankan kondisi sumber air saat ini. Jika debit tetap dipaksakan pada kondisi normal, cadangan air dikhawatirkan cepat habis.
“Kalau kami normal kan di 160-170, mungkin dalam waktu empat hari sudah habis. Jadi warga malah kasihan juga,” bebernya.
Untuk memperpanjang ketersediaan air baku, Perumda bersama BPBD dan Balai Wilayah Sungai (BWS) juga mencari sumber alternatif. Salah satu langkah jangka pendek yang disiapkan yakni memaksimalkan potensi air di area lain yang masih memiliki cadangan sekitar 340 ribu meter kubik berdasarkan analisis BWS.
“Intinya mempertahankan kondisi sekarang, jangan sampai betul-betul stop total. Jadi kita mencari alternatif,” ucapnya.
Sementara itu, kenaikan kapasitas pengambilan air dari Benanga baru akan dilakukan apabila terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi di wilayah hulu sehingga dapat meningkatkan kembali level waduk.
Kaharuddin pun mengimbau masyarakat untuk dapat menghemat penggunaan air selama kondisi sumber air baku belum kembali normal.
“Dengan kondisi seperti ini menjadi pelajaran buat kita semua untuk bijak dalam menggunakan air, beradaptasi dengan kondisi yang ada sekarang, hemat dalam menggunakan air,” pungkasnya.
