Samarinda, Infosatu.co – Elevasi air di Waduk Benanga, salah satu sumber air baku Perumda Tirta Kencana Samarinda terus menyusut di tengah kemarau panjang. Penurunannya mencapai sekitar 5 sentimeter (cm) per hari akibat air terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi air bersih.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo mengatakan berdasarkan pemantauan tim di lapangan, elevasi air Benanga saat ini berada di angka 6,4 meter.
Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena jika elevasi turun hingga 6 meter, air di Waduk Benanga sudah tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan PDAM.
“Kalau sampai elevasinya 6 meter, airnya sudah tidak bisa kita manfaatkan. Nah, ini kita harus mengantisipasi ke depan,” ujarnya usai rapat koordinasi pemenuhan air baku Perumda Tirta Kencana di Kantor BPBD Kota Samarinda, Jalan Sentosa, Jumat, 25 September 2026.
Untuk menjaga pasokan air baku, BWS Kalimantan IV menyiapkan pemompaan air dari Waduk Dayung ke Waduk Benanga yang berjarak hanya sekitar 10 meter. Sebelumnya, Pemerintah Kota Samarinda telah membuat alur yang memungkinkan air dari Waduk Dayung mengalir dan membantu intake PDAM di Benanga.
Waduk Dayung memiliki kapasitas sekitar 340 ribu meter kubik. Dengan pemanfaatan sekitar 5.200 meter kubik per hari, cadangan tersebut diperkirakan dapat menopang kebutuhan air hingga sekitar 65 hari.
“Dari 340 ribu meter kubik itu kalau dimanfaatkan sekitar 5.200 meter kubik per hari, bisa 65 hari. Jadi kita aman sampai November,” jelasnya.
Untuk mendukung skema tersebut, BWS Kalimantan IV akan menyiapkan dua unit pompa berkapasitas masing-masing 250 liter per detik. BPBD Kota Samarinda juga telah memiliki satu pompa berkapasitas 54 liter per detik.
Andri mengaku pompa dari BWS tersebut merupakan peralatan yang biasa digunakan untuk penanganan banjir, tetapi dapat dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan air baku selama kondisi kekeringan.
“Jadi sinergi antara BWS, provinsi, kota itu bareng-bareng,” tuturnya.
Selain langkah jangka pendek, BWS Kalimantan IV juga menyiapkan opsi jangka menengah dengan memanfaatkan void bekas tambang di sekitar kawasan Waduk Dayung dan Benanga.
Void tersebut nantinya berpotensi disuplai melalui saluran atau pipa dengan bantuan pompa menuju Waduk Dayung, sebelum kemudian dialirkan ke Benanga. Dari dua titik yang direncanakan, satu titik yang paling dekat dengan Waduk Dayung akan menjadi prioritas.
Namun, rencana tersebut masih membutuhkan pengecekan lapangan bersama unsur kecamatan dan kelurahan, terutama terkait jalur saluran apabila melewati lahan masyarakat.
Andri menyampaikan kualitas air dari void yang telah diperiksa Dinas Lingkungan Hidup relatif baik. Air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan MCK, sementara untuk menjadi bahan baku air minum PDAM tetap membutuhkan pengolahan agar memenuhi standar.
Ia pun meminta masyarakat tidak panik menghadapi kondisi kekeringan, tetapi tetap menghemat penggunaan air.
“Jangan panik, namun tetap kita harus menghemat pemakaian air. Karena air ini sangat kita butuhkan, sedangkan sumber kita itu adalah dari hujan,” pungkasnya.
