infosatu.co
PEMERINTAH

BMKG Prediksi Pertumbuhan Awan di Kaltim hingga 19 September, Enam Ton NaCl Siap untuk OMC

Teks: Koordinator Lapangan OMC BNPB sekaligus operator PT Milan Pillery Bersatu Abdul Arsyad saat menjelaskan kondisi cuaca di Kaltim. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Upaya meningkatkan curah hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Timur (Kaltim) belum dapat dimaksimalkan. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan awan potensial yang dapat disemai menggunakan bahan semai.

Sejumlah wilayah di Kaltim memang masih memiliki potensi pertumbuhan awan dalam beberapa hari ke depan. Namun, keberadaan awan saja belum cukup untuk pelaksanaan OMC karena karakteristik dan kondisi awan harus memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

Koordinator Lapangan OMC Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus operator PT Milan Pillery Bersatu Abdul Arsyad menjelaskan berdasarkan prediksi BMKG, potensi pertumbuhan awan masih terdapat di Kaltim pada 15-19 September 2026, terutama wilayah bagian timur.

“Berdasarkan prediksi BMKG untuk 15 sampai 19 September, masih ada potensi pertumbuhan awan di wilayah Kaltim, terutama bagian timur. Potensinya dapat terjadi pada siang hingga sore hari,” kata Abdul, Selasa, 15 September 2026.

Menurutnya, OMC dilakukan untuk meningkatkan intensitas curah hujan di tengah kondisi kemarau. Namun, operasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena sangat bergantung pada keberadaan awan yang dapat dioptimalkan.

“Tujuan OMC ini untuk meningkatkan intensitas curah hujan. Tetapi kami bisa melakukannya kalau ada potensi awan yang dapat dioptimalkan,” ujarnya.

Saat ini, pertumbuhan awan mulai terpantau di sejumlah wilayah Kaltim, terutama bagian timur dan utara. Salah satunya di wilayah Kutai Timur.

Meski demikian, awan yang terpantau di Kutai Timur masih didominasi awan dengan kondisi yang belum memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

“Di Kutai Timur sudah terdapat potensi awan, tetapi masih minim. Belum bisa disemai karena masih awan-awan rendah,” jelas Abdul.

Sementara itu, kondisi Samarinda masih relatif cerah. Dengan kondisi tersebut, pelaksanaan OMC belum dapat dilakukan di wilayah Samarinda karena belum terdapat awan potensial yang bisa dioptimalkan.

Pelaksanaan OMC sendiri dapat dilakukan pada siang maupun malam hari. Namun, waktu penerbangan tetap menyesuaikan pertumbuhan awan dan kondisi di lapangan.

Untuk mendukung operasi tersebut, satu unit pesawat Cessna Caravan 208B dengan registrasi PK-SML telah disiapkan. Pesawat tersebut memiliki estimasi jangkauan penerbangan sekitar 120-140 nautical mile (NM), dengan waktu tempuh dari bandara menuju wilayah target sekitar satu jam.

Selain pesawat dan kru, bahan semai juga telah tersedia. Tim OMC menyiapkan enam ton natrium klorida (NaCl) di gudang untuk mendukung pelaksanaan operasi.

“Untuk bahan semai itu kita sudah ready di gudang sebanyak 6 ton NaCl,” kata Abdul.

Dalam setiap penerbangan, pesawat membawa sekitar satu ton atau 1.000 kilogram NaCl untuk digunakan dalam proses penyemaian awan.

Rute penerbangan tidak ditetapkan secara kaku karena akan menyesuaikan pertumbuhan awan yang terpantau di wilayah Kaltim. Tim OMC akan mengarahkan penerbangan berdasarkan potensi awan di lapangan serta arahan BMKG.

“Untuk rute kita menyesuaikan dengan nanti pertumbuhan awan karena cakupannya cukup besar di wilayah Kaltim dan arahan juga di setiap wilayah jika terdapat potensi dapat dioptimalkan,” pungkasnya.

Related posts

654 Hektare Sawah Samarinda Kekeringan, Petani Terancam Gagal Tanam

Emmy Haryanti

Peralatan BNPB Perkuat Respons Kaltim Hadapi Siaga Darurat Karhutla

R'sya Rahmadina

BPBD Akui Air untuk MCK Belum Terpenuhi di Tengah Kekeringan Samarinda

Emmy Haryanti