infosatu.co
KESEHATAN

Kaltim Targetkan 1.033 Desa Jadi Desa Siaga TBC

Teks: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur menargetkan seluruh 1.033 desa di Kaltim menjadi Desa Siaga Tuberkulosis (TBC). Namun, hingga saat ini baru 74 desa yang telah ditetapkan sebagai Desa Siaga TBC melalui surat keputusan (SK).

Target tersebut didorong untuk memperkuat penanggulangan TBC hingga tingkat masyarakat, terutama karena kemampuan Kaltim dalam menemukan kasus baru masih rendah.

Dari estimasi sekitar 21 ribu kasus yang menjadi sasaran penemuan, cakupan kasus yang berhasil ditemukan baru berada di kisaran 54-56 persen.

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan angka tersebut masih jauh dari target penemuan kasus yang diharapkan mencapai 90 persen.

Kondisi itu menjadi salah satu alasan Kaltim masuk dalam 18 provinsi prioritas nasional untuk percepatan penanggulangan TBC.

“Yang pertama penemuan kasus kita sangat rendah. Harusnya dari 21.000 yang menjadi target estimasi yang harus bisa dilakukan pemeriksaan, kita masih 56 persen. Targetnya 90 persen,” ujar Jaya, Selasa, 11 Agustus 2026.

Selain persoalan penemuan kasus, capaian inisiasi pengobatan pasien yang telah terdiagnosis TBC juga belum mencapai target. Saat ini, capaian inisiasi pengobatan berada di sekitar 85 persen dari target 95 persen.

Menurut Jaya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan TBC tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

Penemuan kasus perlu diperkuat dari lingkungan tempat tinggal masyarakat agar warga yang memiliki gejala atau kontak erat dengan pasien dapat segera diperiksa.

Desa Siaga TBC merupakan wadah pemberdayaan masyarakat di tingkat desa atau kelurahan yang diarahkan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mencegah, menemukan, dan membantu menanggulangi kasus TBC secara lebih dini.

Melalui konsep tersebut, desa tidak hanya menjadi lokasi pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi titik penggerak penemuan kasus di tengah masyarakat.

Salah satu bentuknya melalui penemuan kasus secara aktif. Kader kesehatan dapat membantu mengidentifikasi warga yang memiliki gejala TBC, seperti batuk berkepanjangan, kemudian mendorong warga tersebut untuk menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Kader juga dapat membantu melacak kontak erat dari pasien yang telah terdiagnosis. Langkah ini penting untuk mengetahui apakah terdapat orang lain di lingkungan keluarga maupun tempat tinggal pasien yang berpotensi tertular.

“Makanya itu yang dihitung sebagai bagian kenapa kita masuk dalam 18 provinsi yang prioritas untuk melakukan akselerasi, agar yang tadinya rendah, penemuannya bisa 95 persen,” kata Jaya.

Selain menemukan kasus, keberadaan Desa Siaga TBC juga diarahkan untuk membantu memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

Pasalnya, pengobatan TBC membutuhkan waktu panjang dan harus dilakukan secara teratur.

Pemantauan oleh kader diperlukan untuk mengingatkan pasien agar tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan. Ketidakpatuhan minum obat dapat meningkatkan risiko terjadinya resistansi obat sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.

Jaya menyebut saat ini sebanyak 74 desa di Kaltim telah ditetapkan sebagai Desa Siaga TBC. Jumlah tersebut masih jauh dari target 1.033 desa yang ingin dijadikan titik penguatan penanggulangan TBC.

“Kita ingin 1.033 desa itu semuanya Siaga,” pungkasnya.

Related posts

Layanan CKG di Kaltim Sepi, Kuota 30 Orang per Hari Hanya Terisi 1–2 Warga

Emmy Haryanti

Komunikasi Jadi Bagian Pelayanan Kesehatan, Dewan Minta Nakes Lebih Empatik

Emmy Haryanti

Dinkes Samarinda Pastikan Layanan BPJS Tetap Normal Meski Pembiayaan Beralih ke Pemkot

Rizki