infosatu.co
KESEHATAN

Komunikasi Jadi Bagian Pelayanan Kesehatan, Dewan Minta Nakes Lebih Empatik

Teks: Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie. (Emmi/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh tindakan medis, tetapi juga bagaimana tenaga kesehatan berkomunikasi dengan pasien. Cara menyampaikan informasi, memilih kata hingga merespons kondisi emosional pasien dinilai turut menentukan kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Komisi IV DPRD Samarinda setelah munculnya kasus yang melibatkan tenaga medis di RSUD Inche Abdoel Moeis dan mendapat sorotan masyarakat.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie mengatakan komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien perlu menjadi bagian penting dalam menjaga mutu pelayanan kesehatan.

Menurutnya, pasien maupun keluarga pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi yang berbeda-beda. Karena itu, tenaga kesehatan dituntut mampu memahami kondisi psikologis masyarakat ketika memberikan pelayanan.

“Gara-gara salah ucap atau ketus saja, namanya orang sakit, mendengar nada naik satu oktaf saja tanggapannya sudah berbeda,” ujar Novan.

Ia menilai persoalan komunikasi tidak dapat dianggap sebagai hal kecil. Cara tenaga kesehatan berbicara dengan pasien dapat memengaruhi bagaimana masyarakat menilai pelayanan sebuah rumah sakit atau puskesmas.

Terlebih, masyarakat yang sedang menghadapi persoalan kesehatan membutuhkan rasa aman, empati dan penjelasan yang mudah dipahami. Sikap yang kurang tepat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bahkan berkembang menjadi keluhan terhadap fasilitas kesehatan.

Novan juga mengingatkan tenaga kesehatan agar tetap memperhatikan etika ketika berkomunikasi di ruang publik maupun media sosial. Menurutnya, perkembangan media digital membuat setiap pernyataan dapat dengan cepat diketahui dan ditafsirkan oleh masyarakat luas.

“Jangan berpikir karena di luar jam kerja, status profesinya ikut hilang,” tegasnya.

Ia berharap persoalan yang terjadi dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan di Samarinda. Evaluasi tidak hanya menyangkut aspek medis, tetapi juga hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien.

Sebagai mitra pemerintah daerah dalam bidang kesehatan, Komisi IV DPRD Samarinda menyatakan akan terus menerima dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat terkait pelayanan di rumah sakit maupun puskesmas.

Novan menilai peningkatan kualitas pelayanan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, baik tenaga kesehatan, pengelola fasilitas kesehatan maupun masyarakat sebagai penerima layanan.

“Paling tidak, kejadian ini menjadi pelajaran bersama bagi kedua belah pihak, baik dokter maupun tenaga kesehatan,” pungkasnya.

Related posts

Kaltim Targetkan 1.033 Desa Jadi Desa Siaga TBC

Rizki

Layanan CKG di Kaltim Sepi, Kuota 30 Orang per Hari Hanya Terisi 1–2 Warga

Emmy Haryanti

Dinkes Samarinda Pastikan Layanan BPJS Tetap Normal Meski Pembiayaan Beralih ke Pemkot

Rizki