Samarinda, infosatu.co — Pembangunan fasilitas insinerator di sejumlah titik di Kota Samarinda hampir rampung dan mulai memasuki tahap kesiapan operasional.
Dari total 10 unit insinerator yang dibangun, delapan unit telah selesai sepenuhnya, sementara dua unit lainnya tinggal menuntaskan proses perakitan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso, menjelaskan hal tersebut usai rapat progres pembangunan insinerator, Senin, 26 Januari 2026, Ruang rapat Wali Kota Samarinda.
Ia menyebutkan, rapat tersebut membahas laporan terbaru terkait pembangunan gedung insinerator beserta bangunan pendukungnya, yang terbagi menjadi dua bagian utama, yakni unit insinerator dan fasilitas penunjang.
“Secara umum, pembangunan bangunan pendukung telah rampung 100 persen, sementara dua unit insinerator yang masih berproses berada di Handil Bakti dan Simpang Pasir,” ungkap Suwarso.
Selain bangunan utama, rapat juga membahas sambungan air yang dibutuhkan untuk proses hidropengolahan uap.
Dari seluruh lokasi, tersisa satu titik yang sambungan airnya belum selesai.
Untuk mendukung operasional, fasilitas Penerangan Jalan Umum (LPJU) juga menjadi perhatian. LPJU dibutuhkan karena sebagian besar aktivitas operasional dilakukan pada malam hari, sementara kendaraan pengangkut sampah memiliki muatan berat.
“Anggaran LPJU mencapai sekitar Rp181 juta untuk 21 tiang yang tersebar di empat lokasi, karena lima lokasi lainnya dinyatakan sudah aman,” terangnya.
Dari sisi akses, rapat juga membahas kondisi jalan menuju lokasi insinerator. Perbaikan jalan mencakup tujuh titik, yakni Handil bakti, Simpang Pasir, Tani aman, Bukit Pinang, Lempake dan sebagainya dengan jarak bervariasi antara 35 meter hingga sekitar 200 meter.
“Anggaran perbaikan jalan tersebut sekitar Rp3 miliar,” ujarnya.
Pengerjaan perbaikan jalan diupayakan dapat dimulai pada minggu depan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), dengan catatan kondisi cuaca mendukung dan tidak terjadi hujan.
Terkait kesiapan sumber daya manusia, Suwarso menyampaikan bahwa kebutuhan operator pada dasarnya telah tercukupi, namun tetap harus melalui proses seleksi.
Di beberapa lokasi yang telah dilakukan uji coba, seperti Air Itam, Loa Bahu, Bukit Pinang, dan Lempake, kebutuhan kepala kerja, operator, serta petugas keamanan telah terpenuhi.
Sementara lokasi lainnya masih menunggu proses seleksi seiring penyelesaian perakitan dan uji coba.
Dari sisi keselamatan kerja, saat ini setiap unit baru memiliki satu set perlengkapan keselamatan berupa pakaian pelindung, helm, dan sepatu.
Namun, karena pekerjaan dilakukan pada suhu tinggi, diusulkan agar pekerja menggunakan pakaian khusus yang tahan panas sebagai perlindungan tambahan.
Suwarso menegaskan kembali bahwa secara teknis insinerator sebenarnya sudah dapat dioperasikan, namun kesiapan akses jalan pengangkutan sampah tetap menjadi syarat utama.
“Mesinnya bisa dijalankan, tapi akses jalan harus benar-benar memadai karena muatan kendaraan berat dan tidak boleh ada kesalahan dalam pengangkutan,” tegas Suwarso.
Ia menambahkan, target penyelesaian seluruh insinerator diupayakan pada bulan depan agar dapat siap beroperasi. Saat ini, uji coba mesin masih terus berjalan.
