infosatu.co
PARIWISATA

Turis Italia Kagumi Meriahnya Iftar dan Hangatnya Sambutan di Samarinda Wisata Belanja Ramadan 2026

Teks: Turis dari Italia, Ricardo Toni (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Di tengah keramaian Samarinda Wisata Belanja Ramadan 2026 di halaman GOR Segiri, tampak seorang pria asing yang ikut berbaur menikmati suasana.

Ia adalah Ricardo Toni, wisatawan asal Italia yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Ia mengaku sudah berada di Samarinda selama beberapa minggu. Kunjungan kali ini menjadi pengalaman pertamanya mengenal kota Tepian sekaligus menyaksikan langsung budaya Ramadan di Indonesia.

Pengalaman tak terduga sempat ia alami saat namanya disebut dalam sebuah acara tersebut. Ricardo mengaku terkejut ketika mendengar satu kata yang cukup ia pahami.

“Saya terkejut karena saya tahu kata ‘bule’. Jadi saya merasa, ‘Oh, ada yang menyebut kita,’” tuturnya.

Ia bahkan melihat panitia mengundangnya untuk duduk di kursi depan. Namun dengan sopan ia menolak.

“Mereka mengundang saya untuk duduk di kursi, tapi tidak apa-apa, terima kasih, saya merasa tidak perlu,” katanya.

Sehari sebelumnya, Ricardo dan rekannya sempat mencoba mencari pasar Ramadan. Namun mereka datang terlalu malam.

“Kemarin kami mencari beberapa pasar, tapi sepertinya kami datang terlambat karena kami baru keluar jam 7 malam dan semuanya sudah tutup,” ujarnya.

Mereka pun memutuskan untuk datang lebih awal keesokan harinya.

Keputusan itu terbayar. Ricardo tiba sekitar satu jam sebelum diwawancarai dan langsung terkesan dengan suasana yang ia lihat.

“Ini indah. Maksud saya, penuh dengan orang-orang,” katanya. Ia merasa ada pemandangan yang menurutnya unik dan menarik.

“Lucu melihat semua orang membeli makanan tapi tidak memakannya, karena mereka sedang menunggu waktu Iftar,” ungkapnya.

Ricardo mengaku tidak asing dengan istilah Iftar. Ia memiliki banyak teman Muslim di Italia yang menjalankan Ramadan.

“Karena di Italia saya punya banyak teman Muslim, jadi ya, saya tahu,” katanya.

Saat membandingkan dengan negaranya, Ricardo menjelaskan bahwa Italia adalah negara Katolik.

“Italia adalah negara Katolik. Jadi tidak benar-benar seperti umat Kristiani atau Katolik di sini yang merupakan minoritas,” ujarnya.

Menurutnya, negara di Italia tidak mengikuti ritual Muslim atau Kristiani secara umum.

Namun ia menilai suasana Iftar di Indonesia, khususnya di Samarinda, sangat berbeda dan jauh lebih besar skalanya. “Perbedaan yang besar memang,” ujarnya.

Yang paling berkesan baginya adalah sambutan masyarakat. Ricardo merasa diterima dengan sangat baik selama berada di Samarinda.

“Ya, sangat baik. Sambutan yang luar biasa, budaya menyambut tamu di sini sangat indah,” ungkapnya.

Ia menilai menjamu orang asing merupakan nilai budaya yang kuat di banyak negara Muslim dan Asia.

“Menjamu orang asing benar-benar sebuah nilai budaya, dan itu sangat indah. Saya sangat menyukainya,” katanya.

Ia bahkan membandingkannya dengan pengalaman di Turki, Asia Tengah, dan Pakistan. Menurutnya, nilai tersebut juga ia rasakan di Indonesia.

Pengalaman itu membuat Ricardo melihat Ramadan di Samarinda bukan hanya sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan yang terbuka bagi siapa saja.

Related posts

Ayam Bakar Madu Malaysia Hadir di Pasar Ramadan Samarinda, Usung Resep Asli dari Tawau

Andika

Tak Perlu Konsep Berlebihan, 28 Coffee Tetap Dipadati Pengunjung Setiap Hari

Firda

Rayakan Valentine, Warga Serbu Toko Bunga di Jakarta Selatan

Emmy Haryanti

Leave a Comment

You cannot copy content of this page