infosatu.co
Artikel

Secrets of Divine Love Buku Reflektif Teman Renungan Ramadan karya A. Helwa

Teks: Secrets of Divine Love: Menemukan kembali cinta Tuhan di bulan ramadan (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Buku “Secrets of Divine Love” karya A. Helwa menjadi bacaan yang sangat cocok menemani bulan Ramadan. Setiap kali merasa kosong, dan lelah, buku ini selalu menjadi yang pertama saya ambil kembali dari rak.

Ada rasa hangat yang berbeda setiap kali membacanya ulang, seperti diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar pergi.

Di bulan yang identik dengan refleksi dan perenungan ini, “Secrets of Divine Love” terasa seperti teman dialog.

Bahasanya sederhana, tetapi dalam. Tidak menggurui, tidak menghakimi, justru menenangkan.

Salah satu bagian yang paling membekas berbunyi: “Cinta Allah kepada kita tidak pernah berkurang. Hal yang berubah adalah kemampuan kita untuk menerima kasih Tuhan.”

Kalimat itu seperti menegur dengan lembut. Bahwa yang berubah bukanlah Tuhan, melainkan kesiapan hati kita.

Buku ini juga menuliskan dengan jujur: “Kita berdosa bukan karena Tuhan membenci kita, tetapi kita yang tertutup untuk mengalami kasih-Nya.”

Pesan tersebut terasa sangat relevan dengan Ramadan. Bulan ini bukan tentang menjadi manusia tanpa salah, melainkan tentang belajar membuka diri kembali.

Di Bab 2 berjudul “Siapa Anda?”, A. Helwa mengajak pembaca berhenti sejenak dan melihat diri dengan cara yang berbeda.

Ia menulis bahwa manusia bukan produk kebetulan. Manusia adalah ciptaan yang disengaja, ditulis dengan pena rahmat Tuhan, dan ditiupkan ruh-Nya.

Kita bukan sekadar tubuh yang berjalan di bumi, tetapi jembatan antara langit dan bumi.

Dalam bagian tersebut juga tertulis refleksi yang lembut namun menguatkan:

“Anda terlalu rumit untuk dirangkai menjadi kata-kata, karena Anda adalah produk dari cinta Ilahi yang begitu suci dan tak terbatas sehingga tangan-tangan fana manusia yang terbatas gagal melukiskan Anda dengan benar. Kasih Tuhan dengan sengaja meluap untuk menciptakan Anda dan segala sesuatu yang ada.”

Pesan ini terasa dalam, terutama bagi mereka yang sering merasa tidak cukup atau terlalu banyak kekurangan. Buku ini seperti ingin mengatakan bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh penilaian manusia, tetapi oleh cinta Tuhan yang melahirkan kita.

Nuansa harapan juga terasa kuat dalam kutipan berikut: “Ambillah satu langkah menuju Aku, maka Aku akan mengambil sepuluh langkah ke arahmu. Berjalanlah ke arah-Ku, maka Aku akan berlari ke arahmu.”

Kalimat tersebut menggambarkan rahmat Tuhan yang selalu lebih besar dari usaha manusia. Bahkan ketika kita merasa berjalan tertatih, Tuhan digambarkan berlari menyambut.

Kutipan indah dari Jalaluddin Rumi yang disertakan dalam buku ini juga memperdalam makna hubungan manusia dengan Tuhan:

“Engkau tidak tahu betapa sulitnya aku mencari hadiah untuk membawakan-Mu. Tidak ada yang tampak benar. Apa gunanya membawa emas ke tambang emas, atau air ke laut. Jadi aku membawakanmu cermin. Lihatlah Diri-Mu dan ingatlah Aku.”

Kutipan itu merangkum inti pesan buku ini: hubungan dengan Tuhan bukan tentang memberi sesuatu yang belum Ia miliki, melainkan tentang menyadari bahwa diri kita sepenuhnya adalah milik-Nya.

Di bagian penutup reflektifnya, buku ini mengingatkan: “Kita berada di bumi ini bukan untuk menemukan iman atau cinta, tetapi untuk menyirami berkat dari apa yang telah Tuhan tanamkan di dalam diri kita.”

Sebagai bacaan Ramadan, “Secrets of Divine Love” bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dirasakan. Buku yang cocok dinikmati perlahan sembari menunggu waktu berbuka puasa, selepas tarawih atau sebelum sahur.

Bagi siapa saja yang sedang merasa kosong, mencari jawaban, atau ingin mengenal Tuhan dengan cara yang lebih lembut, buku ini bisa menjadi teman perjalanan.

Karena pada akhirnya, seperti yang selalu diingatkan dalam buku ini, cinta Tuhan tidak pernah berkurang, kitalah yang perlu belajar membuka hati kembali.

Related posts

Berbagi Kasih di Panti Jompo, Gen Z for Good Hadirkan Program ‘Temani Aku di Hari Tua’

Firda

Public Speaking Jadi Kunci Wartawan, Mengasah Wawancara Lewat Public Speaking Mastery

Andika

‘Berani Tidak Disukai’ Buku Percakapan tentang Kebebasan dan Menjadi Diri Sendiri

Firda

You cannot copy content of this page