infosatu.co
Artikel

Public Speaking Jadi Kunci Wartawan, Mengasah Wawancara Lewat Public Speaking Mastery

Teks: Salah satu buku yang relevan untuk wartawan (Infosatu.co/Andika)

Samarinda, Infosatu.co — Dalam praktik jurnalistik, kemampuan bertanya sering dianggap sebagai modal utama wartawan.

Namun, pertanyaan yang baik tidak akan menghasilkan jawaban maksimal tanpa didukung kemampuan public speaking yang memadai.

Cara menyampaikan pertanyaan, membangun suasana dialog, serta menumbuhkan rasa percaya narasumber menjadi faktor penentu keberhasilan wawancara.

Tidak sedikit wawancara yang berjalan singkat, kaku, atau berhenti pada jawaban normatif.

Hal ini kerap terjadi bukan karena kurangnya riset atau data, melainkan karena komunikasi yang tidak terbangun dengan baik.

Intonasi yang ragu, bahasa tubuh yang tidak meyakinkan, hingga pendekatan yang terlalu formal dapat membuat narasumber enggan membuka diri.

Dalam konteks tersebut, buku “Public Speaking Mastery” karya Ongku Hojanto menjadi bacaan yang relevan bagi wartawan.

Teks: Isi Buku yang menarik (Infosatu.co/Andika)

Buku yang pertama kali diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada 2013 ini tidak memosisikan public speaking sebatas kemampuan berbicara di atas panggung, tetapi sebagai seni komunikasi yang terarah dan berdampak.

Buku ini menguraikan bahwa inti dari public speaking terletak pada penguasaan pesan dan kepercayaan diri.

Bagi wartawan, pesan tersebut adalah arah wawancara dan tujuan informasi yang ingin digali.

Ketika pesan tersusun jelas, pertanyaan tersampaikan dengan baik, dan komunikasi berjalan lebih alami.

Dialog pun tidak terasa seperti interogasi, melainkan percakapan yang mengalir.

Lebih jauh, buku ini menekankan pentingnya membangun koneksi dengan audiens.

Dalam dunia jurnalistik, audiens itu adalah narasumber.

Wartawan dituntut mampu menciptakan rasa nyaman agar narasumber bersedia berbagi informasi secara jujur dan mendalam.

Kepekaan membaca situasi dan menyesuaikan gaya komunikasi menjadi bagian penting yang dibahas dalam buku ini.

Aspek lain yang disorot adalah mental preparation. Wartawan sering berhadapan dengan tekanan di lapangan, mulai dari wawancara dengan pejabat publik, isu sensitif, hingga keterbatasan waktu.

Tanpa kesiapan mental, komunikasi dapat terganggu dan fokus wawancara mudah teralihkan.

Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa ketenangan dan kendali diri merupakan fondasi utama dalam berbicara.

Salah satu pesan penting yang ditekankan adalah bahwa public speaking bukan bakat bawaan.

Kemampuan ini dapat dilatih secara konsisten melalui kesadaran, latihan, dan evaluasi diri.

Pandangan ini relevan bagi jurnalis muda yang masih membangun jam terbang dan kepercayaan diri dalam liputan.

Melalui Public Speaking Mastery, wartawan diajak melihat wawancara bukan sekadar proses tanya jawab, tetapi sebagai seni komunikasi.

Ketika public speaking dikuasai, informasi dapat digali lebih dalam, relasi dengan narasumber terbangun lebih baik, dan karya jurnalistik yang dihasilkan pun menjadi lebih tajam, utuh, dan bernilai bagi publik.

Related posts

Berbagi Kasih di Panti Jompo, Gen Z for Good Hadirkan Program ‘Temani Aku di Hari Tua’

Firda

‘Berani Tidak Disukai’ Buku Percakapan tentang Kebebasan dan Menjadi Diri Sendiri

Firda

Dari Refleksi hingga Aksi, 5 Kanal YouTube untuk Self Improvement

Firda

Leave a Comment

You cannot copy content of this page