Bontang, Infosatu.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi penyebaran penyakit menular, khususnya Demam Berdarah Dengue (DBD) dan campak, yang belakangan menjadi perhatian pemerintah daerah.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan penanganan kedua penyakit tersebut harus dilakukan secara serius melalui langkah pencegahan, pengawasan wilayah, serta edukasi kepada masyarakat.
“Masalah demam berdarah sudah kita bahas dalam rapat. Penanganannya harus kita fokuskan di titik-titik yang rawan,” ujar Neni, Sabtu, 14 Maret 2026.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah akan melakukan fogging atau pengasapan di kawasan yang teridentifikasi menjadi lokasi berkembangnya nyamuk Aedes aegypti, penyebab DBD.
Menurutnya, kegiatan fogging akan difokuskan pada rumah atau lingkungan yang dinilai memiliki potensi tinggi terjadinya penularan.
“Kalau ada titik rumah yang rawan demam berdarah, kita akan lakukan fogging fokus,” jelasnya.
Selain fogging, pemerintah juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif menjaga kebersihan lingkungan.
Upaya pemberantasan sarang nyamuk dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Pemkot Bontang juga mengimbau masyarakat menerapkan gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah yang berpotensi menampung air.
Juga mendaur ulang barang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Menurut Neni, partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan penyakit.
“Ini harus kita lakukan bersama-sama. Tanpa keterlibatan masyarakat, upaya pemerintah tidak akan berjalan maksimal,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca, terutama pada musim hujan, dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Karena itu, kewaspadaan masyarakat perlu terus ditingkatkan.
Selain DBD, pemerintah daerah juga memberi perhatian pada meningkatnya kasus suspek campak di Kota Bontang.
Neni meminta langkah mitigasi dilakukan secara menyeluruh agar penularan dapat segera dikendalikan.
Menurutnya, pencegahan campak sebenarnya dapat dilakukan melalui cara yang relatif sederhana, seperti memastikan anak mendapatkan vaksinasi serta meningkatkan kewaspadaan dari orang tua.
“Orang tua harus terus diedukasi. Bayi jangan mudah disentuh atau dicium sembarang orang,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya pola hidup sehat serta pemantauan kesehatan anak untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Selain itu, pemerintah daerah juga meminta tenaga kesehatan memastikan anak yang tengah menjalani perawatan akibat campak mendapatkan asupan vitamin A dengan dosis yang sesuai untuk membantu proses pemulihan.
Kader posyandu juga diarahkan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan vaksinasi serta melakukan edukasi langsung kepada masyarakat.
Upaya tersebut juga akan diperkuat melalui pemantauan di berbagai fasilitas pendidikan anak usia dini.
Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah daerah, pada Januari hingga Maret 2026 tercatat sekitar 120 kasus suspek campak pada anak di Kota Bontang.
Sementara itu, pada bulan sebelumnya tercatat 19 kasus DBD, dengan satu kasus meninggal dunia yang menimpa seorang anak berusia tujuh tahun di Kelurahan Gunung Elai.
Neni menegaskan pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kasus di lapangan agar langkah penanganan dapat segera dilakukan apabila terjadi peningkatan.
“Kesehatan masyarakat harus kita jaga bersama,” pungkasnya. (Adv)
