Samarinda, infosatu.co — Tidak semua perjalanan spiritual dilalui dengan tubuh yang kuat dan kondisi yang ideal. Sebagian justru dijalani dalam keadaan sakit, lelah, dan penuh ujian.

Namun bagi Syahrial, jemaah asal Samarinda, perjalanan menuju Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura adalah perjalanan niat yang tetap dijalani meski tubuh berkali-kali memberi peringatan.
Perjalanan dimulai dini hari, Kamis 25 Desember 2025 sekitar pukul 04.00 WITA, dari Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) menggunakan mobil.
Tujuan pertamanya bukan langsung ke Martapura, melainkan Barabai. Rute Samarinda-Barabai yang biasanya ditempuh 12 jam, kali ini memakan waktu hingga 19 jam.
Malam hari membawa Syahrial sekeluarga tiba di Barabai. Ia tidak memaksakan diri.
Bersama keluarga, ia memilih untuk bermalam di Hotel. Keputusan tersebut diambil dengan kesadaran penuh akan kondisi fisik.
Subuh hari, tepat pukul 04.00 Wita, perjalanan kembali dilanjutkan. Dari Barabai menuju Martapura, Syahrial sekeluarga menempuh perjalanan sekitar 5 jam.
Bagi Syahrial jarak jauh bukan hal baru. Ia mengaku sudah terbiasa melakukan perjalanan ke Kalimantan Selatan, termasuk saat mudik Lebaran.
“Capek pasti ada, namanya juga perjalanan jauh. Tapi rasanya senang karena bisa membawa istri, mertua dan saudaranya ke Martapura,” ujarnya melalui panggilan suara, Minggu 28 Desember 2025.
Namun di balik kebiasaan itu, kondisi fisik Syahrial tidak sedang baik-baik saja. Selama perjalanan, asam urat di kakinya kambuh, rasa kantuk datang berkali-kali di saat menyetir, dan tubuh terasa tidak nyaman.
Meski demikian, niat menghadiri Haul Abah Guru Sekumpul menjadi penguat utama.
“Kalau soal sakit, kembali lagi ke niat. Ini momen haul Abah Guru Sekumpul,” tegasnya.
Menariknya, rasa sakit itu tidak begitu terasa selama perjalanan berlangsung. Fokus untuk sampai ke tujuan membuat tubuh seolah diajak berkompromi.
Namun semuanya berubah ketika roda kendaraan akhirnya sampai di Martapura, kediaman keluarga.
“Di perjalanan rasanya baik-baik saja. Tapi setelah sampai di Martapura, baru terasa lelahnya, dan sakitnya,” ungkap Syahrial.
Kondisi fisiknya yang sangat menurun membuat keluarga memanggil dokter ke rumah pada malam hari.
Syahrial mendapatkan suntikan dan obat ampul untuk membantu memulihkan kondisi tubuh yang begitu drop setelah perjalanan panjang.
Di tengah ujian fisik itu, Syahrial justru menyimpan kenangan indah sepanjang perjalanan.
Ia terkesan dengan sambutan masyarakat dan relawan di sepanjang jalur menuju Martapura.
Hampir di setiap kabupaten dan kota di Kaltim, tersedia rest area bagi jemaah haul.
“Di setiap daerah ada rest area, masjid, dan mushola. Jemaah bisa singgah, beristirahat, dan makan minum secara gratis,” ujarnya.
Makanan yang disediakan pun beragam nasi kuning, nasi campur, nasi rawon, nasi sop, kue-kue tradisional, hingga minuman seperti teh hangat, kopi, susu, dan pisang goreng. Namun bagi Syahrial, rasa bukanlah hal utama.
“Yang dicari itu bukan soal enak atau tidak enaknya makanan, tapi kebersamaan. Semua terasa nikmat karena selama singgah banyak bertemu mengobrol dengan teman-teman baru dari luar daerah,” katanya.
Rest area bahkan tersedia setiap dua hingga tiga kilometer, baik di masjid besar maupun mushola kecil.
Hal tersebut membuat perjalanan panjang terasa lebih ringan, penuh sapaan, dan rasa persaudaraan antarsesama jemaah dari berbagai daerah.
Bagi Syahrial, mengikuti Haul Abah Guru Sekumpul bukan sekadar agenda tahunan. Ada niat yang lebih dalam—mengharap rahmat, keberkahan, dan syafaat.
“Niat utama saya adalah berharap rahmat, keberkahan, dan syafaat dari Abah Guru Sekumpul, para nabi, dan rasul,” ujarnya.
Ia juga memaknai haul sebagai wujud ketulusan menghadiri wali Allah yang dikenal hingga mancanegara.
Menurutnya, jemaah tidak hanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri.
“Jemaah dari Malaysia, Brunei, Thailand, bahkan dari Eropa dan Timur Tengah bisa hadir. Kalau mereka bisa, masa kita yang satu Kalimantan tidak bisa,” tegasnya.
Nilai-nilai yang diajarkan Abah Guru Sekumpul pun masih dipegang Syahrial hingga kini kecintaan pada salawat Nabi, akhlak, kesantunan, dan kepedulian terhadap sesama.
Semua itu, menurutnya, bersumber dari ajaran Rasulullah SAW yang diwariskan melalui para ulama.
Selain itu, Syahrial hanya memiliki harapan sederhana: kesehatan dan kesempatan untuk bisa kembali.
“Mudah-mudahan diberi kesehatan, umur panjang, rezeki yang halal, berkah, dan bisa kembali lagi ke Martapura untuk mengikuti haul sekumpul tahun depan,” tuturnya.
Kepada semua umat Islam, Syahrial menitipkan pesan:
“Mudah-mudahan kita semua bisa belajar banyak tentang ilmu-ilmu Nabi Muhammad SAW yang disampaikan kepada umatnya melalui para alim ulama. Mudah-mudahan hati kita selalu terbuka untuk benar-benar bisa meneladani ilmu-ilmu tersebut,” ujar Syahrial menutup.
Pada akhirnya, perjalanan Syahrial ke Haul Abah Guru Sekumpul bukan hanya tentang sampai di Martapura, melainkan tentang menjaga niat di tengah keterbatasan fisik, menundukkan ego pada keikhlasan, dan membiarkan rasa sakit menjadi bagian dari jalan menuju keberkahan.
