Samarinda, infosatu.co- Nahkoda Kapal Patroli Kantor Kasyabandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda KN 373, Galang Nuswantoro menyebutkan adanya kecelakaan kapal di perairan Sungai Mahakam, tepatnya di sekitar Jembatan Mahakam Ulu.
Ia menjelaskan kronologi awal kejadian berdasarkan informasi di lapangan. Peristiwa ini kembali menambah daftar insiden tabrakan tongkang di jembatan penghubung penting Kota Samarinda tersebut dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

Galang mengungkapkan, kecelakaan bermula dari rangkaian insiden yang melibatkan beberapa kapal tunda dan tongkang.
“TB Atraktik Star menubruk buoy atau pelampung tambat yang telah ditabrak oleh TB Marina 1631. Dugaan sementara tali Buoy tampak putus dan menyebabkan takbut dan tongkang tersebut hanyut,” ungkapnya, Minggu, 25 Januari 2026.
Kondisi arus Sungai Mahakam yang cukup kuat diduga turut memperparah situasi, sehingga objek yang terlepas tidak dapat segera dikendalikan.
Menurut Galang, insiden tidak berhenti sampai di situ. Ia menjelaskan bahwa tali seven towing dari TB Marina 1631 kemudian dilaporkan putus. Akibatnya, TB Marina Power hanyut tanpa kendali dan akhirnya menempel pada safety fender Jembatan Mahakam Ulu.
Posisi kapal dan tongkang yang berada di sekitar struktur pengaman jembatan tersebut memicu kekhawatiran akan keselamatan konstruksi.
Upaya evakuasi segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih luas.
“Evakuasi dilakukan oleh Kapal Motor Asiserly 2 Mangkujeneng dan DL 07. Mery Power 3066 ditarik ke tempat yang aman,” tandas Galang.
Proses penarikan dilakukan dengan pengawasan ketat guna memastikan tidak terjadi tekanan tambahan pada pilar maupun fender jembatan.
Insiden ini menjadi tabrakan tongkang terbaru yang melibatkan Jembatan Mahakam Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur. Sebelumnya, peristiwa serupa tercatat terjadi pada 23 Desember 2025 dan 4 Januari 2026.
Kali ini, tongkang batu bara Marine Power 3066 dilaporkan menghantam struktur jembatan pada Minggu pagi, 25 Januari 2026.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kaltim, Muhammad Muhran, menyampaikan pihaknya melakukan peninjauan lapangan setelah menerima informasi awal yang beredar di media sosial serta laporan dari masyarakat. Sekitar pukul 10.00 WITA, tim PUPR-Pera bersama konsultan teknis turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan.
“Setelah memperoleh informasi dari media sosial, kami langsung melaporkannya kepada pimpinan dan segera menuju lokasi kejadian untuk melakukan kajian lapangan,” ujar Muhran usai peninjauan, Minggu, 25 Januari 2026.
Menurutnya pada hasil pemeriksaan awal, bahwa Tongkang Marine Power 3066 menabrak salah satu safety fender jembatan dari arah Samarinda menuju Loa Buah. Fender yang terdampak terlihat mengalami kemiringan, retak, serta kerusakan berupa gompal pada beberapa bagian.
“Dari tiga fender yang berada di sisi Samarinda–Loa Buah, satu fender yang berada di posisi paling depan mengalami benturan. Secara visual terlihat adanya retakan dan bagian yang terkelupas,” jelasnya.
Tidak hanya fender, struktur pilar jembatan juga dilaporkan mengalami dampak. Pilar nomor 8 dan 9 ditemukan memiliki bekas goresan serta retak akibat benturan tongkang tersebut.
“Selain fender, pilar 8 dan pilar 9 turut terdampak. Terdapat bekas gesekan dan kerusakan pada bagian pilar,” ungkap Muhran.
