infosatu.co
TOKOH

Jalan Panjang Perjalanan Najat Lansia 64 Tahun ke Haul Guru Sekumpul

Teks: Najat Tabassum saat di rest area

Samarinda, infosatu.co – Tidak semua perjalanan diukur dengan jarak. Sebagian justru diukur dengan niat.

Itulah yang dirasakan Najat Tabassum, seorang lansia berusia 64 tahun asal Samarinda, saat memutuskan berangkat menuju Martapura untuk menghadiri Haul Guru Sekumpul.

Perjalanan Najat dimulai sejak dini hari, Kamis 25 Desember 2025 dari Samarinda menggunakan mobil bersama saudaranya, anak, menantu dan cucu kecilnya.

Tujuan pertamanya bukan langsung Martapura, melainkan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Rute Samarinda–Barabai.

Biasanya Samarinda–Barabai ini dapat ditempuh sekitar 12 jam, kali ini memakan waktu hingga 19 jam.

Perjalanan panjang itu di selimuti oleh kemacetan, namun tetap dijalani dengan penuh kesabaran.

“Kami beberapa kali berhenti di rest area juga untuk makan dan istirahat supaya badan tetap kuat,” ujarnya melalui panggilan suara, 26 Desember 2025.

Sepanjang jalan, rombongan beberapa kali singgah. Makan sederhana menjadi penguat tenaga nasi kuning, lontong, nasi campur, hingga gorengan yang di dapatkan secara gratis.

Bagi Najat, berhenti sejenak bukanlah hambatan, melainkan cara untuk menjaga tubuh agar tetap mampu melanjutkan perjalanan.

Malam hari akhirnya membawa Najat tiba di Barabai. Ia tidak memaksakan diri.

Bersama keluarga, ia memilih beristirahat dan menginap semalam. Keputusan itu diambil dengan kesadaran penuh akan kondisi fisik.

“Sudah capek, jadi kami menginap dulu di Hotel. Tidak dipaksakan,” ujarnya.

Subuh hari ini, tepat pukul 04.00 Wita, perjalanan kembali dilanjutkan. Dari Barabai menuju Martapura, Najat menempuh perjalanan sekitar lima jam.

Udara pagi yang sejuk, jalanan yang mulai dipenuhi jemaah, dan suasana religius menjadi teman sepanjang perjalanan. Sekitar pukul 09.00 pagi, Martapura akhirnya menyambut langkahnya.

Di Martapura, Najat sekeluarga akan bermalam di rumah keponakannya yang berada tidak jauh dari kawasan Sekumpul.

Jarak rumah tersebut sangat dekat dengan lokasi haul, sehingga nantinya dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki.

Meski sepanjang perjalanan panjang dan melelahkan, Najat memilih tidak larut dalam rasa capek. Di dalam kendaraan, ia justru menciptakan suasana hangat dengan bercerita.

“Saya selalu berusaha enjoy dengan perjalanan. Di mobil, kami juga banyak cerita lucu, cerita masa kecil dulu,” katanya.

“Kalau hati dibuat senang, badan juga ikut kuat.” tegasnya menambahkan.

Yang paling membekas dalam ingatan Najat bukan semata jarak tempuh atau lamanya perjalanan, melainkan kebaikan orang-orang di sepanjang jalan.

Ia menyaksikan bagaimana masyarakat dengan sukarela menyediakan makanan dan buah-buahan gratis bagi para jemaah haul.

“Buah-buahan itu disediakan di meja. Rambutan, langsat, sawo, sampai roti. Semua dikasih gratis. Alhamdulillah, orang-orang baik sekali,” terangnya.

Bagi Najat, Haul Guru Sekumpul bukan sekadar acara tahunan. Ini adalah ruang untuk kembali belajar tentang keteladanan, kesederhanaan, dan kebaikan.

“Niat utama saya datang ke haul ini supaya bisa meneladani kebaikan Guru Zaini dan mendapatkan motivasi untuk selalu berbuat baik,” ujarnya.

Ia mengaku telah beberapa kali mengikuti Haul Guru Sekumpul. Tahun ini menjadi kali keempat ia hadir.

Setiap kedatangan selalu membawa ketenangan yang sama, meski tubuh semakin menua.

Najat mengatakan, nantinya ia akan memanjatkan doa-doa sederhana. Doa untuk anak cucu menjadi yang paling utama.

“Saya mendoakan anak cucu supaya menjadi anak yang saleh dan salehah, beriman, berbudi luhur, dan berhati mulia, semoga bisa bermanfaat bagi masyarakat, negara, dan keluarga,” tuturnya.

Kepada generasi muda, Najat menitipkan pesan yang lahir dari perjalanan panjangnya.

“Cintailah ulama, teladanilah kebaikan dan ilmu yang diajarkan, supaya hidup punya arah dan membawa ketenangan,” tegasnya.

Langkah Najat memang tidak lagi cepat. Namun dari perjalanan panjang itu, ia menghadirkan pelajaran yang jernih: selama niat dijaga, jalan sejauh apa pun akan selalu menemukan akhirnya.

Related posts

Memetik Makna Perjalanan Ira Nur Azizah dalam Menulis

Firda

Tanpa Panggung, Mesin Ketik Jadul Menjadi Ruang Ngamen Puisi Firdaus

Firda

Terus Bergerak, Jalan Panjang Usaha Versi Among Kurnia Eboq

Firda

Leave a Comment

You cannot copy content of this page