Samarinda, infosatu.co – Setelah proses panjang sejak 2012, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kalimantan Timur (Kaltim) akhirnya resmi memiliki satuan kerja (Satker) yang menjadi fondasi penguatan lembaga tersebut sebagai pusat pendidikan seni dan budaya di Kaltim.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdaprov Kaltim, Dasmiah, memastikan perkembangan signifikan terkait pendirian ISBI Kaltim.
“Alhamdulillah, saat ini ISBI sudah keluar satkernya. Ini perjuangan panjang bertahun-tahun. Dengan adanya satker, kita berharap ISBI Kaltim bisa menjadi institusi seni budaya yang menyokong Kalimantan Timur, terutama di bidang budaya,” ujar Dasmiah saat ditemui di Gedung Olah Bebaya, Senin, 17 November 2025.
Menurut Dasmiah, keberadaan ISBI sangat strategis untuk menjawab kebutuhan daerah akan tenaga pendidik muatan lokal (Mulok).
Program studi seperti musik, tari, kriya, hingga etnomusikologi diharapkan mampu melahirkan lulusan yang mengisi kekurangan guru seni di berbagai daerah.
“Kita ini kekurangan guru mulok. Dengan adanya jurusan musik, etnomusikologi, dan kriya termasuk kriya Dayak, lulusannya nanti bisa membantu memenuhi kebutuhan itu,” jelasnya.
Lebih jauh, ISBI Kaltim disebut mewakili seluruh provinsi di Kalimantan dalam penyediaan pendidikan tinggi bidang seni dan budaya.
Saat ini, aktivitas perkuliahan ISBI masih berlangsung di Museum Mulawarman, Tenggarong. Namun, pembangunan kampus baru akan segera direalisasikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi.
Pemprov Kaltim telah menghibahkan lahan seluas 30 hektare di Tenggarong Seberang sebagai lokasi pembangunan kampus tersebut.
“Lahannya sudah kita hibahkan ke Kementerian Pendidikan Tinggi. Tinggal menunggu realisasi pembangunan dari pusat,” kata Dasmiah.
Pemprov Kaltim juga memastikan seluruh mahasiswa ISBI mendapatkan kuliah gratis melalui skema kerja sama beasiswa.
Bahkan, mahasiswa dari daerah pedalaman seperti Kutai Barat dan Berau menerima bantuan biaya hidup Rp1 juta per bulan.
“Semua diberikan melalui skema kerja sama. Ada living cost satu juta per bulan untuk mahasiswa dari pedalaman agar mereka tetap bisa berkembang,” ujarnya.
ISBI juga memberi kelonggaran dalam penerimaan mahasiswa baru dengan batas usia maksimal 24 tahun, lebih longgar dibanding perguruan tinggi negeri lainnya.
“ISBI itu negeri, sama seperti ISI Jogja. Kualitasnya setara. Karena masih bentuk satker, ISBI Kaltim juga masih disokong oleh ISI Jogja dan Pemprov Kaltim,” tutup Dasmiah.
Dengan status satker dan dukungan penuh pemerintah, ISBI Kaltim diharapkan tumbuh menjadi pusat pendidikan seni yang tidak hanya mencetak tenaga profesional, tetapi juga menjadi garda terdepan pelestarian budaya di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). (Adv Kominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
