Samarinda, infosatu.co – Di tengah lonjakan jumlah jemaah haji tahun ini, persoalan klasik antrean panjang masih membayangi masyarakat. Termasuk di Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim).
Meski kuota meningkat, masa tunggu haji di Samarinda tetap mencapai puluhan tahun, bahkan baru-baru ini diseragamkan menjadi 26 tahun secara nasional.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kota Samarinda, Jurait, menegaskan bahwa kebijakan tersebut berlaku untuk seluruh daerah, termasuk Samarinda.
“Sekarang masa tunggu disamakan seluruh Indonesia menunggu selama 26 tahun,” ujarnya, Rabu, 1 April 2026.
Ia mengungkapkan, sebelum adanya penyeragaman, masa tunggu di Samarinda bahkan lebih panjang dan tidak seragam dengan daerah lain.
“Sebelumnya berbeda, karena kalau Samarinda 37 tahun. Nah sekarang disamakan menjadi 26 tahun,” jelasnya.
Di sisi lain, peningkatan kuota tahun ini menjadi anomali tersendiri di tengah panjangnya antrean.
Jumlah jemaah yang diberangkatkan mencapai lebih dari seribu orang, jauh di atas rata-rata tahun sebelumnya.
“Tahun ini ada sebanyak 1.025 ribu jemaahnya dari Samarinda. Tahun ini yang paling banyak. Biasanya 550,” katanya.
Namun, tingginya minat masyarakat membuat tambahan kuota belum cukup signifikan memangkas antrean.
Sistem pendaftaran yang berlaku pun menegaskan bahwa proses menuju keberangkatan tidaklah singkat.
“Jika ingin mendaftar melalui bank terlebih dahulu baru selanjutnya ke Kementrian Haji dan Umrah,” ujarnya.
Artinya, calon jemaah tidak bisa langsung mendaftar ke Kementerian, melainkan harus melalui tahapan awal di perbankan.
“Harus menyetor 25 juta rupiah, untuk bisa mendapatkan nomor porsi,” ungkapnya.
Setoran awal tersebut menjadi pintu masuk dalam sistem antrean nasional. Setelah mendapatkan nomor porsi, calon jemaah harus menunggu giliran sesuai kuota yang tersedia setiap tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski ada peningkatan jumlah keberangkatan, akses masyarakat untuk berhaji tetap dibatasi oleh panjangnya antrean.
Di satu sisi kuota bertambah, namun di sisi lain jumlah pendaftar terus meningkat, membuat masa tunggu tetap menjadi tantangan utama dalam penyelenggaraan ibadah haji.
