Samarinda, infosatu.co – Di serambi Masjid Fathul Khair, Samarinda, seorang lelaki berusia 40-an tampak duduk perlahan.
Selasa sore, 25 November 2025 itu, selepas salat Asar, Junaidi marbut yang sudah 13 tahun mengabdikan hidupnya untuk menjaga kesucian rumah ibadah menyambut kedatangan kami dengan senyum hangat, meski tubuhnya tampak sedang tidak fit.
Ia merapikan kopiah putih di kepalanya, lalu mulai bercerita. Dan dari sanalah tampak jelas bahwa perjalanan hidup Junaidi bukan sekadar rutinitas menyapu karpet masjid melainkan kisah keteguhan dan pengabdian panjang yang jarang terlihat.
Hijrah dari Banjarmasin, Menemukan Jalan Hidup di Samarinda
Junaidi lahir dan besar di Banjarmasin. Tahun-tahun awal hidupnya dipenuhi pekerjaan serabutan sebelum ia dan istrinya memutuskan pindah ke Samarinda sekitar 13 tahun lalu. Kota ini menjadi titik balik perjalanan hidupnya.
Di sinilah ia mulai bekerja sebagai marbut, profesi yang tak jarang dipandang remeh padahal keberlangsungan masjid sangat bergantung pada mereka.
“Waktu mulai di sini, saya hanya ingin hidup lebih baik. Ternyata Allah kasih jalan yang lebih dari itu,” kenangnya.
Kini ia tinggal di Samarinda bersama istri dan anaknya. Kakaknya, yang menjadi imam di Masjid Al-Husna, juga tinggal tak jauh dari sana. Dukungan keluarga itulah yang membuatnya istiqamah dalam profesinya.
“Kalau bukan karena Allah, pekerjaan ini berat. Tapi kalau dijalani dengan niat yang benar, hati jadi tenang,” ucapnya.
Junaidi masih mengingat jelas momen peluncuran Program Gratispol pada 21 April 2025.
Ia datang hanya untuk menyaksikan acara, tanpa sedikit pun membayangkan akan membawa pulang kabar besar.
Ketika namanya disebut sebagai salah satu penerima Umrah Gratis, Junaidi hanya bisa berdiri terpaku.
“Jujur saya tidak menyangka. Badan langsung lemas tapi hati sangat senang,” ujarnya.
Program umrah untuk marbut dan penjaga rumah ibadah adalah bagian dari enam program prioritas Pemprov Kaltim.
Bagi Junaidi, momen itu seperti balasan atas tahun-tahun panjang menjalani pekerjaan yang selama ini sunyi dan tidak banyak diketahui orang.
Ia berangkat pada Oktober 2025 bersama rombongan. Pengalaman naik pesawat saja membuatnya gugup setengah mati.
“Pas pesawat mau naik, tangan saya dingin semua. Tapi ya itu, pertama kali,” katanya sambil tersenyum malu.
Ketika tiba di tanah suci, Junaidi langsung terdiam. Ia bercerita bahwa momen itu seperti mimpi yang terlalu jauh untuk digapai.
“Rasanya luar biasa. Saya salat langsung menghadap Ka’bah, bukan lagi ke dinding masjid,” ucapnya, suara bergetar.
Momen itu menjadi memori paling ia syukuri sepanjang hidupnya.
Mengabdi Tanpa Sorotan, Mengharap Keberkahan
Selama 13 tahun, Junaidi membersihkan masjid, merapikan tempat wudu, menjaga kesucian karpet, hingga membuka pintu untuk jamaah setiap hari.
Ia tidak pernah merasa istimewa. Justru ia merasa beruntung bisa bekerja di rumah Allah.
“Kalau kita kejar keberkahan, Allah yang atur sisanya,” tuturnya.
Bukan Perjalanan Terakhir: “Kalau Allah Izinkan, Saya Ingin Lagi ke Sana”
Ketika ditanya harapannya setelah kembali ke Indonesia, Junaidi tertawa kecil.
“Kalau Allah izinkan, saya mau lagi ke sana. Siapa sih yang tidak mau?” katanya.
Namun ia menegaskan bahwa dirinya bukan satu-satunya yang pantas. Ia berharap program ini terus berlanjut dan menyentuh lebih banyak marbut serta penjaga rumah ibadah lain di seluruh Kaltim.
Doa untuk Pemimpin Kaltim
Meski kondisi tubuhnya siang itu tak begitu baik, ia tetap semangat mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin daerah.
“Terima kasih Pak Gubernur, Pak Wakil Gubernur. Semoga Allah mudahkan urusan kalian semua,” ucapnya.
Baginya, perhatian terhadap marbut adalah bentuk penghormatan yang sangat jarang terjadi.
“Selama ini kami hanya menjaga masjid. Tapi kali ini kami dijaga oleh pemerintah,” katanya lirih.
Ia menepuk dadanya pelan, seolah menegaskan bahwa semua pengalaman itu adalah karunia terbesar dalam hidup.
“Hidup ini Allah yang atur. Kita cukup jalanin saja. Allah pasti kasih jalan,” tuturnya.
Kisah Junaidi bukan hanya tentang seorang marbut yang mendapat hadiah umrah.
Ini adalah cerita tentang ketulusan bekerja tanpa pamrih, pengabdian panjang di rumah Allah, dan bagaimana satu kebijakan pemerintah dapat mengubah hidup seseorang yang selama ini bekerja dalam sunyi. (Adv Diskominfo Kaltim)
Editor: Nur Alim
